Ciamsi, Komunikasi dengan Para Suci yang Makin Dilupakan

MALANG - Perkembangan jaman turut menyumbang menurunnya tren penggunaan ciamsi di Klenteng Eng An Kiong Kota Malang. Teknologi dan peradaban yang kian maju, membuat sejumlah orang tak lagi berminat menjalankan tradisi tersebut.
Hal itu dijelaskan oleh Bonsu Anton Triyono kepada Malang Post, kemarin sore. Memang warga Tionghoa yang melestarikan ciamsi masih ada. Akan tetapi didominasi kaum tua saja, untuk menanyakan perihal nasib, peruntungan dan obat.
“Peminat ciamsi berkurang karena kemajuan jaman, orang lebih suka yang praktis dan instan,” imbuhnya.
Ciamsi itu sebenarnya ada dua jenis. Yakni ciamsi penerangan untuk nasib, jodoh dan peruntungan lainnya. Serta ciamsi kesehatan atau ciamsi obat yang bisa ditukar dengan resep Tionghoa kuno ke shinse tertentu.
“Contohnya soal obat, jarang lagi yang memakai ciamsi obat, ya itu karena kepengen instan,” katanya.
Di klenteng Eng An Kiong sendiri, ada beberapa altar Dewa yang kerap untuk membaca ciamsi. Yakni altar utama Dewa Bumi, altar Dewi Kwan Im, altar Dewa Rejeki serta altar Dewa Obat.
“Favorit umat adalah membaca ciamsi di altar Dewa Bumi dan Dewi Kwan Im,” imbuhnya.
Ciamsi di klenteng dilakukan dengan sejumlah tahapan. Yang pertama adalah melemparkan dua bilah kayu lambang yin yang. Dua kayu itu harus dilempar hingga posisinya berlawanan, yakni satu bilah terbuka dan lainnya tertutup.
“Setelah itu baru membaca ciamsi penerangan atau ciamsi obat,” terangnya.
Membaca ciamsi dengan mengocok lajur nomor ciamsi di tabung bambu. Dari kocokan itu yang harus jatuh hanya satu bilah saja. Dari bilah itulah bisa dilihat nomor yang muncul.
“Nomornya kemudian ditukar dengan kertas di selatan altar, ada ramalannya dengan bahasa Indonesia dan Cina, kalau ciamsi obat ya berupa resep cina yang bisa dibaca Shinse saja,” katanya.
Yang penting, untuk membaca ciamsi, umat harus niat dari rumah. Sebab, dalam dimensi tertentu, ciamsi ini merupakan bentuk komunikasi dengan para Suci.(ary/fia)