Awas! Jangan Main-main dengan Tombol Help

MALANG - Panic Button on Hand kini terus disosialisasikan oleh Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata S.I.K, MH dan jajarannya. Kemudahan yang ditawarkan dengan gratis itu, mesti dijalankan dengan bijak pula. Sebab, ketika sudah memiliki aplikasi dan main-main menekan tombol 'Help', bisa berujung pada sanksi karena melanggar UU ITE.
Begitu warga meminta bantuan, maka Makota Command Center akan menerima informasi yang dimaksud, termasuk lokasi pengguna smartphone yang mengoperasikan aplikasi itu. Jika ternyata informasi tidak benar, ada konsekuensi yang harus ditanggung.
"Kami memberikan toleransi tiga kali. Setelah itu akan ada blacklist nomor handphone yang memberikan laporan tidak sesuai," ujar Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata, S.I.K, MH.
Bahkan, konsekuensi paling berat pada ancaman hukuman enam tahun penjara atau denda sebesar Rp 6 miliar. Hal itu sesuai dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Pasal 28 Nomor 11 Tahun 2008. "Kami harap masyarakat tidak main-main, sebab ini berhubungan dengan pelayanan kami kepada publik. Termasuk memberikan keamanan kepada warga," papar dia.
Menurut Singgamata, Panic Button on Hand ini berbeda dengan layanan 110 dulu, yang terkadang masih ada masyarakat memberikan informasi tidak benar, karena nomor telepon tidak langsung terlacak. "Sekarang, ada informasi masuk, data sudah lengkap kami terima," tegas dia.
Sementara itu, terkait fitur dari aplikasi yang tertulis dengan nama Bantuan Polisi Malang Kota ini terdiri dari empat pilihan. Laporan, Kritik/ Saran, MalangKotaNews dan Pelayanan Polri. "Termasuk Help untuk kondisi darurat. Empat fitur lain, bisa diakses misal memberi laporan atau informasi MalangKotaNews," pungkasnya.

Ide Muncul dari Gadis 13 Tahun
Ide Panic Button on Hand dari Polresta Malang tercetus melalui perbincangan santai. Anak dari AKBP Singgamata yang bernama Jawza Thahara Rosyasiva adalah inspirasi dari fitur keamanan masyarakat ini.
Ya, memang dari sebuah celetukan sang anak ketika makan malam bersama lah inovasi ini tercetus. Saat itu, sang ayah sedang sibuk menerima laporan dari anak buahnya terkait kondisi keamanan. "Pas makan bersama, saya bilang sama Papa. Buat dong aplikasi via Playstore atau apa yang lebih mudah dan murah," ujar Jawza.
"Keren banget jika di sini ada layanan super cepat yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak," sebut dia.
Pelajar SMA Al Azhar Surabaya ini pun sedikit memberikan penjelasan kepada AKBP Singgamata tentang sebuah aplikasi. Tidak banyak menurutnya, hanya menunjukkan keuntungan dan kecepatan ketika warga mengakses aplikasi yang waktu itu masih 'ngambang' karena tidak diketahui bentuk pastinya. "Setelah itu, saya pun tidak berpikiran banyak. Karena memang hanya dalam obrolan santai," tambahnya.
Namun ternyata, setelah berminggu-minggu, dia dikejutkan oleh informasi dari ayahnya. Tiba-tiba, sang ayah menyampaikan jika kini sedang menyiapkan aplikasi itu. "Ya kaget juga, ternyata diwujudkan dalam waktu yang sangat cepat. Katanya kini layanan yang dimaksud sudah siap dimanfaatkan masyarakat," ungkap gadis berusia 13 tahun itu.
Menurut gadis cantik ini, andilnya hanya sampai di situ. Sebab, ketika pengerjaan proyek ini dia tidak ikut urun rembuk. "Ya gitu doang sih, tetapi ternyata ide ini sekarang nyata. Tau-tau sekarang dilaunching juga, berarti aplikasinya sudah siap," papar dia, bangga.
Menurut dia, dengan adanya aplikasi ini, warga Kota Malang akan sangat dimudahkan. Sebab, fiturnya selain keamanan juga dipadukan dengan informasi pelayanan kepolisian pula.(ley/han)