Battle of Surabaya Ada di Museum Brawijaya

Tanggal 10 November, seluruh masyarakat di Indonesia memperingatinya sebagai Hari Pahlawan. Namun tak banyak yang tahu, bahwa saksi sejarah dari battle of Surabata itu tersimpan di Museum Brawijaya Malang. Edisi khusus kali ini, Malang Post akan mengupas kisah dan benda-benda bersejarah itu.

Peristiwa 70 tahun  lalu di Surabaya, merupakan bukti bersatunya berbagai elemen rakyat di Indonesia, untuk melawan penjajah yang berusaha mengganggu kedaulatan Republik Indonesia. Tidak hanya dari Surabaya, bahkan dari berbagai pulau lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatra hingga Bali, turut berjuang di medan perang. Tujuannya, demi mempertahankan kemerdekaan, yang baru diproklamirkan 17 Agustus 1945.
Peristiwa 10 November itu, memang berlangsung selama 21 hari di Surabaya, yang disebut juga sebagai Kota Pahlawan. Akan tetapi, sejatinya Kota Malang justru lebih banyak menyimpan peninggalan bersejarah itu. Banyak cerita yang lebih gampang digali oleh berbagai kalangan untuk mengetahui perjuangan dan terekam di Museum Brawijaya Malang yang beralamat di Jalan Ijen No. 24A tersebut. Berbagai barang di museum, merupakan koleksi yang memiliki hubungan erat baik sebelum maupun sesudah peristiwa 10 November 1945 itu.
Koleksi barang itu mulai dari tank lapis baja dan senjata penangkis serangan udara (PSU) yang berada di halaman depan. Meja kursi perundingan di Kantor Gubernur Jawa Timur hingga berbagai senjata hasil rampasan, selama perjuangan melawan sekutu.
“Ada puluhan koleksi mulai dari tank, Pompom Double Loop, kursi perundingan, senjata perang hingga rampasan yang didapat selama peristiwa yang berawal 10 November 1945. Museum Brawijaya ini, justru memiliki koleksi yang sangat lengkap,” ujar Pemandu Museum Brawijaya Malang, Soerjo Atmodjo.
Benda yang mampu menceritakan perjuangan para pahlawan yang bertempur di Surabaya ini, terbagi dalam dua tempat di museum. Yang pertama di halaman depan, sedangkan dominan koleksi berada di Ruang Koleksi 1. Seperti rampasan senjata api laras panjang, lukisan tentang perundingan di Kantor Gubernur Jatim hingga meja dan kursi yang menjadi tempat berunding, antara Gubernur Jawa Timur Suryo, Kolonel Sungkono, Presiden RI Soekarno dan Wakil Presiden Moh Hatta, serta perwakilan Sekutu Brigjen Mallaby.
“Paling lengkap di sini. Di Surabaya, malah hanya Tugu Pahlawan saja. Museum Brawijaya Malang, memiliki berbagai koleksi lengkap dan mengisahkan peristiwa tersebut,” papar Kepala Museum Brawijaya, Kapten CAJ (K) Luluk Lutmiarti.
Di tempat ini pula, tepat bagi siapapun yang ingin napak tilas serta menerima sejarah lengkap. Bagaimana pertempuran hebat terjadi, senjata memuntahkan pelurunya dan dilawan oleh rakyat yang berjuang bersama. Tidak tampak lagi golongan, tingkatan, agama dan paham. Semua rakyat merasa, ketika Indonesia terancam, bangsa Indonesia yang akan membelanya. Pemerintah, tentara, rakyat, melebur menjadi satu dan berkorban demi Indonesia.(ley/ary)