Belajar Sejarah dari Semangat Bung Tomo

PERISTIWA heroik yang berlangsung selama 21 hari di Kota Pahlawan, dipicu tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945. Tepat sehari setelah Mallaby berunding di Kantor Gubernur Jatim, justru dia yang berusaha membantu perdamaian. Dia terpanggang di mobil yang ditumpanginya karena lemparan bom ketika melintas di depan Gedung Internatio.
Tewasnya Mallaby, dianggap sebagai satu pembunuhan yang kejam. Muncul ancaman menuntut balas terhadap rakyat Indonesia, yang berada di Surabaya khususnya. Bung Tomo, yang waktu itu merupakan Pucuk Pimpinan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) merasa tidak takut akan ancaman Jenderal Christison dari Angkatan Perang Inggris. Bung Tomo yang mampu mengkordinir gerakan kepemudaan, justru melihat ada muslihat licik yang disiapkan. Jepang, Belanda seakan dibakar untuk turut menggempur Surabaya.
Kekhawatiran itu pun terbukti benar. Pihak Belanda melalui Inggris, mengultimatum pemerintah Indonesia yang baru terbentuk, untuk menyerahkan diri dengan meletakan senjata, dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Dalam selebaran yang disebar melalui udara, Komandan Angkatan Perang Inggris di Jawa Timur Mayor Jenderal Mansergh meminta seluruh pimpinan Indonesia, pemuda, polisi, dan kepala radio Surabaya, menyerahkan diri ke Bataviaweg atau Jalan Batavia, pada 9 November 1945.
“Penghinaan itu justru membuat dada para pejuang Kemerdekaan terbakar. Dengan cepat, BPRI memberikan pelatihan kilat perang gerilya. Terutama tentang tata cara penggunaan senjata hasil rampasan pasukan Nippon. Beberapa senjata rampasan, digunakan pula untuk menghalau serangan sekutu,” ujar Pemandu Museum Brawijaya Malang, Soerjo Atmodjo.
Misalnya tank buatan Jepang hasil rampasan Arek-arek Suroboyo pada bulan Oktober 1945. Ada pula senjata Penangkis Serangan Udara (PSU), yang dikenal dengan Pompom Double Loop direbut oleh pemuda BKR dari tentara Jepang dalam suatu pertempuran pada bulan September 1945. Kedua senjata ini kini ada di Museum Brawijaya Malang.
Tank dan double loop ini kemudian digunakan oleh BKR untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, baik dari serangan tentara sekutu maupun tentara Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dalam pertempuran di barat Bangkalan, senjata tersebut berhasil menembak jatuh dua pesawat tempur Belanda.

Kembali ke perjuangan, pascamendapatkan pelatihan yang cukup, secara bergantian rakyat memberikan pengajaran kepada temannya yang lain, dan seterusnya. Mereka inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘pasukan berani mati’. “Bukan hanya rakyat Surabaya. Tetapi juga pejuang dari Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Bali, para kiai dan alim ulama dari berbagai Pulau Jawa. Anak-anak, pemuda, pemudi, dan orang tua. Semua terjun ke medan perang,” papar dia panjang lebar.
Di tengah situasi genting itu, Gubernur Jawa Timur Suryo berpidato di corong radio, meminta rakyat untuk bersabar dan menunggu keputusan dari pemerintah di Jakarta. Pemerintah pusat di Jakarta menyerahkan keputusan yang diambil kepada pemerintah daerah dan rakyat. Akhirnya, Gubernur Suryo kembali berpidato, dan meminta rakyat mempertahankan Kemerdekaan yang baru diproklamirkan.
Hingga 10 November 1945 pagi, rakyat yang siap angkat senjata pun masih menunggu. Hingga akhirnya tersiar kabar, sekira pukul 09.00 WIB lebih, seorang pemuda melaporkan terjadi penembakan oleh pasukan Inggris. Peristiwa yang ditunggu-tunggu pun tiba. Masing-masing pasukan pemuda, dikerahkan ke pos dan pangkalan yang sudah menjadi tanggung jawabnya dan meletuslah perang yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. “Perjuangan itu berakhir 1 Desember 1945. Perjuangan Indonesia, selama 21 hari,” tandasnya. (ley/udi)