Berkah dan Musibah Letusan Gunung Bromo

Sang Hyang Swayambuwa atau Hyang Brahma atau Dewa Brahma adalah penguasa Gunung Bromo. Nama itu sudah tertera dalam prasasti era Mpu Sindok (900-an masehi, Red) hingga prasasti era Majapahit (1.300-an masehi). Bahkan ritual Asada (Kasada) dan sebuah swatantra bernama Walandit (kini Blandit Singosari, Red) diistimewakan oleh kerajaan, dianggap sebagai abdi Hyang Brahma.

Brahma dan Bromo, secara toponimi memang amat dekat. Pasca letusan 2010, di ujung tahun 2015 ini, Hyang Brahma meletus lagi. Bagi Suku Tengger yang selama ini menjadi abdi dalem Gunung Bromo, letusan itu adalah berkah. Menurut mereka Sang Hyang Swayambuwa sedang menebar kesuburan.  
Pasalnya, abu vulkanik yang dilontarkan dari gunung eksotis itu, menyuburkan tanah pertanian. Sehingga meski tinggi letusan mencapai 1.200 – 1.500 meter, warga Suku Tengger tetap beraktifitas normal. Lautan pasir di Bromo, tak ubahnya halaman rumah sendiri, mereka lalu lalang di sana.
Malang Post, bertemu Sapar, 55 tahun, Joni, 55 tahun dan Slamet, 55 tahun yang seluruhnya warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukopuro, Kabupaten Probolinggo. Pekerjaan mereka adalah bertani. Aneka tanaman yang mereka tanam. Diantaranya, sawi, bawang, kentang, gubis dan jagung.
Saat ditemui, mereka tengah melintas di Bukit Teletubbies menuju Lautan Pasir. Padahal, di samping bukit Teletubbies, Bromo tengah mengeluarkan letusan setinggi 1.200 meter, suaranya bergemuruh. Wajah mereka justru berbinar, maklum saja. Mereka baru saja mengunjungi teman-temannya  yang berada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo.
“Kami biasa berjalan kaki dari Ngadirejo menuju Ngadas untuk bersilaturahmi,” ujar Sapar, kepada Malang Post, kemarin.
Meski aktivitas Gunung Bromo meningkat, mereka merasa takut sedikit pun.
“Saya tidak sekali ini saja merasakan letusan Gunung Bromo, melainkan telah berkali-kali sejak tahun 1971,” tuturnya.
Menurutnya, letusan ini hanya biasa. Istilahnya, Gunung Bromo hanya batuk dan mengeluarkan muntahan material berupa pasir. Sedangkan intensitasnya, juga masih terbilang normal.
“Tahun 2010, letusannya lebih hebat dari ini,” kata Slamet menimpali.
Menurutnya, letusan Gunung Bromo ini yang membawa berkah bagi para petani. Lantaran muntahan abu vulkanik menyuburkan tanah, Sehingga, hasil panen mereka tiap musim, dapat meningkat tiga kali lipat ketimbang biasanya.
Namun, hasil itu baru bisa dirasakan setelah setahun Gunung Bromo meletus. “Satu komoditi, hasil panennya hingga mencapai tiga ton. Kalau normalnya, biasanya hanya satu ton,” tuturnya.
Kondisi seperti ini, tentunya membawa keberkahan bagi para petani.
Sedangkan disinggung mengenai ritual saat Gunung Bromo meletus ini, dia mengaku tidak ada. Sedangkan keseharian bila Gunung Bromo terus menggeliat, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa.
“Kalau Gunung Bromo itu meletus itu tidak parah. Paling hanya mengeluarkan abu. Justru abu itu yang menyuburkan tanah,” terangnya.