Biasa Patroli Malam, Siapkan Hari Khusus untuk Anak

10 September 2014, menjadi hari cukup istimewa AKP Sri Widyaningsih. Maklum, setelah selama tiga tahun sebagai Kepala Unit Bimbangan Masyarakat di Polsek Turen, perempuan berpangkat tiga garis di pundak itu, diberi tanggung-jawab sebagai Kapolsek Sumberpucung.
Mengawali kinerja di posisi baru, perempuan yang pernah menjabat Kaur Samsat Lantas Polres Malang ini mampu beradaptasi dengan cepat. Salah satunya, dalam mengawal keamanan penutupan lokalisasi di wilayah Sumberpucung dan menjaga kondisi keamanan masyarakat di sana.
Tidak heran, jika kemudian dalam peringatan Hari Kartini ini, Widya sangat bersyukur dengan adanya emansipasi wanita sehingga ia mampu menjadi satu dari dua perempuan yang diberi tanggung-jawab sebagai kapolsek di wilayah hukum Polres Malang.
 “Adanya kesamaan gender, membuat perempuan-perempuan yang berprestasi dan memiliki kemampuan bagus, bisa menempati posisi sesuai dengan kemampuan atau bidangnya. Apalagi didukung dengan pimpinan yang tidak tidur untuk mengetahui kemampuan bawahan, membuat kombinasi persamaan gender ini kian padu. Sehingga, perempuan pun diberi tempat yang sesuai dengan kemampuannya,” kata Widya saat ditemui Malang Post di Polres Malang.
Sebagai Kapolsek, Widya harus menjalankan tugas dengan penuh tanggung-jawab dan menjalankan aturan-aturan yang ada.
“Kalau prosedurnya harus melakukan patroli malam, ya harus dijalankan. Jadi, oke-oke saja ketika saya harus menjalankan tugas malam seperti melaksanakan operasi patroli dengan anggota. Yang terpenting, tetap mengayomi dan memberikan tauladan yang baik kepada anggota. Apalagi, seperti saya di Polsek Sumberpucung, selain Kapolsek juga dianggap paling tua,” ujarnya.
Mampu berperan optimal sebagai Kapolsek tak membuat Widya melupakan tugas utamanya sebagai ibu. Ia mampu memberikan perhatian dan mendidik ketiga anaknya dengan baik. Bahkan kini tugas Widya bertambah sejak suaminya Kompol Gatot Suseno yang juga mantan Kapolsek Gondanglegi meninggal pada Juli 2014 lalu. Ia harus berperan ganda.  
 “Sekarang sudah ada HP, saya bisa menelpon langsung untuk mengecek anak-anak. Apalagi, anak saya yang paling kecil juga sudah kelas 3 SMP. Jadi, tidak ada kendala untuk mengawasi mereka,” terangnya.
Widya menambahkan, ketiga anaknya sudah memahami bagaimana tugas dan tuntutan tugas Kapolsek. Pemahaman itu diperoleh anak-anak saat ayah mereka menjabat Kapolsek Pakis, Kapolsekta Lowokwaru hingga akhirnya menjabat sebagai Kapolsek Gondanglegi.
“Karena itu, saat saya menjabat sebagai Kapolsek, anak-anak pun tanpa harus diajari, sudah paham bagaimana keseharian ibunya nanti. Karenanya, mereka tidak pernah marah saat ibunya harus menjalankan tugas. Tidak terkecuali, saat malam hari harus melakukan patroli atau menggelar razia. Namun, sebagai bentuk perhatian dan penyimbang, saya tetap memberikan hari-hari khusus untuk keluarga atau anak-anak,” paparnya.
Meski Widya mengakui tak menemui kendala dalam menjalankan keseharian sebagai Kapolsek dan kepala rumah tangga, namun kesibukan Widya dan almarhum suami, tanpa sengaja membentuk pola pandang tersendiri pada anaknya. Mereka enggan menjadi Polwan karena khawatir di masa mendatang akan sulit berkumpul bersama keluarga.
 “Cita-cita saya sama bapak (almarhum) dahulu, anak-anak bisa mendaftar sebagai polwan. Namun, melihat keseharian kami sebagai Kapolsek, mereka rupanya malah takut dan tidak mau masuk menjadi polisi. Ternyata anak saya malah jadi dokter,” pungkas Widya. (sit/han)