Ciptakan Layanan Sakit Berjenjang

Berawal dari keprihatinan terhadap realisasi jaminan pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat. MALANG POST secara khusus menyoroti layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Malang Raya. Harus diakui, sekitar 16 bulan dijalankan, institusi baru ini belum memberikan hasil menggembirakan. Suara dari masyarakat, bakal kami sampaikan utuh, jika baik maka baik, dan sebaliknya.

Di Kota Malang, fasilitas kesehatan (faskes) BPJS rumah sakit tersebar di sekitar 11 RS. Sejumlah faskes itu antara lain RSI Aisyiyah Malang, RS Islam Unisma (JST),  Puri Bunda (JST), Ganesha Medika (JST), Permata Bunda (JST), Rumah Sakit Lavalette, RSIA Muhammadiyah Malang, RSU. Universitas Muhammadiyah, RS. Panti Nirmala, RSUD dr. Saiful Anwar (RSSA) dan RS Melati Husada.
Kali ini tim, mendatangi faskes BPJS di RSSA.  Peserta BPJS Kesehatan Malang menilai sistem pelayanan BPJS terlalu rumit untuk masyarakat. Pasalnya, dengan sistem baru BPJS ini masyarakat tidak bisa langsung melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. Dengan kata lain, mengeluhkan terhadap pelayanan di faskes milik instansi BUMN ini.
Seperti yang dialami Hariyanto (41) salah satu peserta BPJS yang ditemui Malang Post di depan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang, kemarin (14/4/15). Pria yang dulu menjadi anggota Asuransi Kesehatan (Askes) ini menilai, sistem BPJS sekarang lebih ‘ruwet’ daripada saat jaman Askes dulu.
"Dulu enak, tidak ada tingkat-tingkatan. Kalau sekarang, harus dapat rujukan dulu dari klinik atau puskesmas, baru bisa ke rumah sakit," ujar Hariyanto kepada Malang Post.
Ia tengah mengantar keponakannya yang sedang menjalani pemeriksaan masalah pencernaan di IGD RSSA. Menurutnya, dalam segi pelayanan akan lebih baik bila peserta BPJS bisa langsung mendaftar di rumah sakit yang diinginkan.
Belum lagi, tambahnya, pasien harus mengantre lama. Sebab, semenjak ada pelayanan BPJS banyak masyarakat yang mendaftar, sehingga peserta membludak. "Kita yang sudah pakai Askes tidak dapat pelayanan khusus, tetap harus mengantre panjang. Saya lebih suka sistem Askes yang dulu," kata Hariyanto.
Persoalan antre panjang juga Munaip (70 tahun) dan Kartina (60 tahun). Pasangan suami istri ini mengantre mulai pukul 05.30 WIB di RSSA saat akan melakukan pemeriksaan jantung Kartina si istri. Munaip yang mengantar Kartina mengatakan, dirinya baru dipanggil petugas loket pukul 07.30 WIB.
Setelah itu, di laboratorium pemeriksaan jantung, Munaip dan Kartina juga masih harus mengantre. "Pokoknya mengantre agak lama, selesai semua pukul 11.00 WIB dan menunggu hasil pemeriksaan lab," urainya.
Ia mengakui, sebelum memeriksa diri ke RSSA, Munaip mendapat rujukan dari Puskesmas Celaket, Klojen, Malang. Selama menjadi peserta BPJS pada akhir 2014 ini, ia sudah lima kali melakukan pemeriksaan. Sebanyak itu pula ia ke Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan mendapat rujukan ke RSSA.
"Memang bolak-balik. Tapi tidak ada masalah kalau sesuai prosedur. Selain itu, biaya pengobatan juga gratis, pendaftaran saat itu juga cepat," pungkasnya.
Dengan kata lain, BPJS ini memunculkan birokrasi baru bagi si sakit. Demi memenuhi prosedur, peserta wajib menjalani pemeriksaan berjenjang. Di jenjang fasilitas kesehatan yang lebih tinggi, seringkali peserta menemui antrean yang luar biasa panjang.