Dari Jagongan Bareng Film Nendes Kombet (1)

NGALAM - Umak Arek Ngalam? Kalau iya, pasti tahu apa artinya Nendes Kombet. Kalau merunut ke aturan Bahasa Walikannya Malang, Nendes Kombet ini berarti Senden Tembok (bersandar ke tembok). Biasanya digunakan, bila seseorang sedang bersantai-santai ria.

Nendes Kombet tak sekadar frase khas daerah. Nendes Kombet merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai Mahasiswi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta. Karya yang disutradarai Sa’idah Fitriah itu itu diputar di lantai 3 kantor Malang Post, Ruko WOW cluster Apel nomor 1-9, Sawojajar, kemarin (4/9/15). Penonton pun membeludak, ternyata pemutaran film ini menarik perhatian banyak orang.
Ada penonton dari kalangan seniman, budayawan, akademisi, bahkan para tokoh Arema rela datang untuk melihat pemutaran film ini. Mereka menonton film berdurasi sekitar 30 menit itu dengan serius, meski sesekali adegan humor membuat gelak tawa menggema di kantor Malang Post Group.
Acara dibuka oleh Sekjen DKM Johny Suhermanto, lantas dimoderatori oleh seniman seni rupa Yon Wahyuono. Ketertarikan atas film Nendes Kombet  didasari keinginan kuat untuk lebih tahu secara mendalam. Perkembangan Boso Walikan khas Malang itu, mulai dari zaman penjajahan, sampai di zaman modern seperti sekarang. Dalam film dokumenter Nendes Kombet inilah, perjalanan Boso Walikan diceritakan. Karena di balik Boso Walikan, rupanya tersimpan berbagai cerita menarik.
"Boso Walikan ini digunakan sebagai sandi, muncul karena kesepakatan bersama oleh sekelompok masyarakat di Malang," kata Dwi Cahyono, budayawan Malang yang juga menjadi narasumber pada film dokumenter Nendes Kombet.
Boso walikan itu, muncul demi kepentingan perjuangan di zaman penjajahan. Masyarakat menggunakan boso walikan untuk berkomunikasi antar sesama Kera Ngalam, sehingga orang di luar kelompok ini tidak tahu apa yang dibicarakan.
"Sekarang Boso Walikan lebih ke tren. Tapi, orang Malang sendiri banyak yang tidak mengerti, malah banyak orang luar kota yang datang ke Malang berniat untuk belajar bahasa ini," kata Yoseph El Kepet, tokoh Arema yang juga jadi narasumber di film Nendes Kombet.
Ada lagi yang bisa diketahui dari film Nendes Kombet. Siapa kira? Ternyata Boso Walikan ini juga sering digunakan untuk melakukan tindak kriminal. Ada yang bilang, Boso Walikan sering digunakan oleh para Maling atau copet bila akan beraksi dan berhadapan dengan polisi. Hingga akhir. Banyak cerita di balik Boso Walikan, yang diceritakan dari Nendes Kombet.
Husnun N. Djuraid, Komisaris Malang Post sekaligus pembicara dalam acara kemarin menyebut, pemutaran film Nendes Kombet ini merupakan salah satu upaya bagus untuk melestarikan bahasa khas Arema itu. "Boso Walikan ini punya sejarah dan tak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia, khususnya Malang," tegas Khusnun.
Setelah Nobar Nendes Kombet, agenda dilanjutkan dengan diskusi film. Hadir dalam acara tadi malam, Dwi Cahyono (budayawan Malang), Tjandra Purnama Edhy (pemilik Soak Ngalam), Yoseph El Kepet (Tokoh Arema), serta tokoh dan masyarakat lainnya. Diskusi berjalan aktif, para peserta saling lempar pendapat, sampai pada akhirnya menuju kepada satu kesimpulan, bahwa Boso Walikan ini merupakan kekayaan budaya yang hanya ada di Malang. "Salam Satu Jiwa. Arema!" teriak para peserta menutup acara tadi malam. (erz/ary)