Dari Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet (Habis)

MALANG – Boso Walikan benar-benar merupakan kekayaan budaya asli Malang. Mulai sejarah, sampai penggunaannya di masa kini, Boso Walikan memiliki sesuatu yang tak dimiliki daerah lain.
Menariknya,  boso walikan muncul dari kawasan Kidul Pasar (sekarang kelurahan Kidul Pasar, red). Saat itu, bahasa ini menjadi sandi bagi para pejuang di sekitar  tahun  1948. Boso walikan digunakan para pejuang karena di zaman tersebut, banyak mata-mata Belanda  berkeliaran di Malang.
Era itu lebih dikenal dengan era Gerilya Rakyat Kota (GRK). Boso walikan berkembang sebagai bahasa komunitas, muncul dari kesepakatan bersama dan digunakan untuk mengidentifikasi, siapa kawan dan lawan. Siapa yang bisa pakai boso walikan, dialah kawan. Sebaliknya, bagi yang tak bisa boso walikan, dialah lawan.
Seiring perkembangan zaman, boso walikan terus mengalami perkembangan. Memang awalnya boso walikan berasal dari Kidul Pasar, namun semakin lama, boso walikan terus bermunculan dari berbagai kawasan. Bentuk boso walikan dari masing-masing daerah bisa berbeda. Meski, akhirnya pertukaran bahasa terus berlangsung, sampai akhirnya boso walikan menjadi bahasa kebanggaan Arek Malang.
Seluk-beluk boso walikan ini terungkap pada Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet, di lantai tiga Kantor Malang Post Group Ruko WOW Cluster Apple nomor 1-9, Sawojajar, Kedungkandang, Kota Malang, Jumat (4/9/15) malam lalu. Banyak dari peserta yang bercerita, mengenai sejarah, manfaat sampai perkembangan boso walikan hingga saat ini.
Berbagai pendapat dilontarkan setiap peserta. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai akademisi, budayawan, seniman, tokoh Arema, pejabat pemerintahan, sampai orang-orang Asli Malang itu sendiri. Masing-masing memang memiliki pengetahuan yang berbeda tentang boso walikan.
Ya namanya diskusi, perbedaan pendapat antar peserta pasti ada. Tapi, perbedaan pendapat itu malah menambah wawasan. Ada yang berpendapat, bahwa boso walikan ini harus dikamuskan, adapula yang menganggap kalau boso walikan ini tetap dibiarkan jadi bahasa komunitas. Tapi, di antara perbedaan pendapat tersebut, mereka memiliki kesepemahaman yang sama: Boso Walikan merupakan kebanggaan arek-arek Malang.
"Boso walikan adalah warisan bahasa, sehingga kita harus berusaha untuk bagaimana menjadikan bahasa walikan tetap bertahan sepanjang masa," kata Rudi Satrio Lelono, peserta diskusi yang juga merupakan dosen di Universitas Muhammadiah Malang (UMM), sekaligus perwakilan Dewan Kesenian Malang (DKM) dalam diskusi tersebut.
Pria kelahiran Bareng ini mengatakan bahwa sebenarnya, dalam boso walikan tak semua kata bisa dibalik. Hanya memang karena penggunaannya semakin ke arah populer, ditambah banyaknya pendatang yang datang dan ingin mengenal boso walikan, perkembangan bahasa-bahasa baru muncul.
"Kabeh (semua) jadi  Hebak. Suwun (terima kasih) jadi Nuwus, itu bukan boso walikan asli," tegasnya. Karena itu, untuk mempelajari boso walikan, Rudi yang akrab disapa Idur ini, diperlukan riset secara mendalam, karena sebenarnya ada aturan baku pada boso walikan yang tidak diketahui generasi zaman sekarang.
Hal ini dipertegas oleh Antok Yono, peserta dari DKM yang juga merupakan warga asli Kidul Pasar. Ia mengatakan, kalau tak semua kata dalam bahasa walikan itu dibalik. "Orang Malang asli pasti tahu, karena boso walikan yang benar-benar dari Malang itu punya jiwa. Susah diungkapkan, tapi kami (orang Malang asli) bisa mengerti mana yang benar-benar boso walikan, mana yang bukan," jelas Antok.Menurutnya, jiwa inilah yang menjadi karakter khusus boso walikan. Bila jiwa ini benar-benar ada, kata Antok, boso walikan bakal terdengar tegas dan santun.
Syamsu S Soeid, peserta lainnya menyebut kalau kesantunan boso walikan ini ia buktikan sendiri dengan pengalamannya. "Waktu itu ada berita di televisi yang membahas bahasa Suroboyoan (Surabaya), namun mendapat respon negatif. Tapi, saat belajar boso walikan, ternyata sangat  terdengar santun dan beretika. Karena itu, saya berharap kalau boso walikan ini terus dibudidayakan dan dilestarikan.
Dosen sastra Inggris Universitas Negeri Malang (UM) yang juga peneliti boso walikan mengatakan, kalau saat ini memang sudah terjadi pergeseran. Dulu, boso walikan memang muncul dari akar rumput, namun sekarang boso walikan bisa menembus sampai ke kelas atas. "Manfaatnya bisa dikatakan sangat baik, karena bisa membangkitkan nasionalisme dan kebanggaan masyarakat kepada Malang," ujarnya menyampaikan hasil dari penelitiannya mengenai boso walikan.
Perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Heri Sunarko mengatakan, kalau kegiatan dan diskusi boso walikan ini harus terus dilanjutkan, agar boso walikan asli Malang ini bisa terus dilestarikan. "Disbudpar siap mewadahi," cetusnya.
Dialog antar peserta pun terus berlanjut, sampai hampir larut malam. Acara yang diawali dengan nonton bareng Nendes Kombet, film dokumenter tentang boso walikan ini, berlangsung interaktif dan cukup menarik perhatian. "Kami harap ini bermanfaat bagi para peserta diskusi," kata Vandri Battu, Ketua Pelaksana Jagongan Gayeng Film Nendes Kombet. (erz/nug)