Fatamorgana UMKM di Bumi Blambangan, Banyuwangi (1)

MASA depan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) berbahan baku bathok (tempurung kelapa) di Banyuwangi, bak katak dalam tempurung. Berikut catatan Hary Santoso, wartawan Malang Post saat mengunjungi Kejaya Handicraft di Dusun Kejaya, Desa Tambong, Kecamatan Tambong, Banyuwangi.

Kerja keras, H Khotibien mengangkat perekonomian warga di dusun tempat tinggalnya layak diapresiasi. Lelaki berjambang tebal, yang akrab dipanggil Ibien, ayah dua orang anak ini tidak hanya memberi peluang pekerjaan untuk warga sekitarnya. Lebih dari itu, adik Ahmad Fathoni, pendiri Kejaya Handicraft ini, mampu mengubah limbah bathok kelapa menjadi produk yang diminati konsumen luar negeri.
Berbekal pola pikir dan kreatifitas seni, Ibien telah menjadi pemasok BH (bustehouder) berbahan baku bathok kelapa ke Pulau Tahiti sebuah pulau terbesar di Polinesia Perancis, terletak di Kepulauan Society, di bagian selatan Samudra Pasifik. ‘’Selain itu, produk BH Bathok kami kirim juga ke Jamaica di Amerika Tengah. Lumayan jumlahnya bisa puluhan ribu. Tergantung order yang diberikan ke saya,’’ ungkap Ibien sembari menunjukkan contoh BH bathok produksinya.
Saat ini, Ibien dengan dibantu 150 pekerja, mampu melego BH bathok kisaran Rp 150 juta per bulan. Omset penjualan itu murni didapatnya tanpa campur tangan pemerintah daerah atau Dinas Koperasi dan UMKM Pemprov Jatim. Kinerja dan masa depan BH bathok Ibien murni hanya bergantung dari Mr Depak, warga negara India yang menjadi penghubung Ibien dengan buyer-nya di Tahiti dan Jamaica. ‘’Mr Depak ini orang kepercayaan pembeli produk saya. Semua urusan pesanan diserahkan ke dia (Mr Depak). Saya sendiri jarang ketemu dengan orang itu (sang buyer, red.),’’ aku Ibien, yang mengaku lupa nama buyer dimaksudkan.
Dalam hati kecil Ibien keinginan untuk menjual langsung aneka produknya ke importir di Jamaica dan Tahiti, sangat besar. Sayang, angan-angan itu tidak pernah kesampaian. Bapak angkat UMKM, dalam hal ini Pemkab Banyuwangi atau pun Dinas Koperasi dan UMKM Jatim belum pernah membantu mewujudkan impiannya.
Pendek kata, hidup dan mati usaha handicraft yang digelutinya tergantung 100 persen tergantung Ibien dan kakaknya Ahmad Fathoni. Alhasil, harga jual produknya pun menjadi tidak sehat. Karena segala urusan berkaitan soal pesanan ditentukan langsung oleh Mr Depak dan buyer-nya.
Bahayanya, jika kedua penghubung tadi menemukan produk sejenis dari luar daerah yang harganya lebih murah, maka dengan mudah keduanya akan berpaling. Dengan gampang pula Ibien dan 150 tenaga kerjanya yang digaji Rp 50 juta per bulan, akan musnah.
‘’Saya ingin sekali berhubungan dengan importirnya. Tapi saya tidak tahu caranya,’’ akunya.
Apakah tidak ada bantuan dari pemerintah daerah atau provinsi? ‘’Belum pernah ada. Omset penjualan tergantung hubungan saya dengan Mr Depak tadi,’’ ungkapnya.
Ketakutan Ibien layak diperhitungkan dan menjadi perhatian. Apalagi, Ibien saat ini sedang bersaing dengan produk sejenis asal Thailand, China dan Filipina. Kalau pun Ibien masih bisa bertahan sampai sekarang sejak tahun 2001, tidak hanya karena keuletan Ibien. Tetapi juga ketelatenan Ibien melayani keinginan kedua penghubungnya tadi.
Jangankan difasilitasi ketemu importir langsung, UMKM sekelas Ibien layak diajak pameran ke luar negeri. Sebab, dengan cara ini, peluang berhubungan langsung dengan calon buyer bisa terjadi. Sehingga, trading bisa langsung dilakukan antara produsen dan pembeli. Mata rantai perdagangan ke luar negeri bisa dipotong.
‘’Tidak pernah. Saya tidak pernah diajak. Pernah sekali ditawari pameran ke luar negeri, tetapi saya mau. Karena biaya transportasi dan akomodasi harus bayar sendiri. Mahal. Saya hanya diberi fasilitas stand saja,’’ keluh Ibien, yang mengaku dirinya belum menguasai bahasa Inggris secara baik dan benar.
Ketatnya persaingan produk UMKM menjelang diberlakukannya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015, layak diperhitungkan masak-masak. Apalagi, Pemprov Jatim selalu gembar-gembor bahwa produk UMKM paling siap menghadapi MEA 2015 mendatang. Jika perhatian pemerintah ke sektor UMKM hanya mengejar kuantitas saja, patut dipertanyakan kesungguhannya. Klaim bahwa kualitas produk UMKM juga menjadi perhatian pemerintah juga patut dipertanyakan bentuknya. (bersambung)