Glamor di Catwalk, Asyik Saat Mengajar

Mahasiswa Jurusan Ilmu Administrasi Bisnis FIA Universitas Brawijaya (UB) mengenal  Lusy Deasyana Rahma Devita S.AB M.AB sebagai dosen yang asyik diajak untuk sharing. Selain tentang tugas mata kuliah, mereka juga kerap berkonsultasi tentang banyak hal. Meski sering bertemu setiap hari, namun para mahasiswa dipastikan akan pangling dengan penampilan dan gaya Lusy di atas catwalk.  
Ya, tidak semua mahasiswanya tahu jika wanita berusia 28 tahun ini adalah model di Color Model Inc. Di sela-sela kesibukannya yang padat sebagai dosen, Lusy bisa menjalani kehidupan lain yang sangat bertolak belakang. Di atas runway, Lusy berubah menjadi sosok sangat berbeda sesuai dengan busana yang ia bawakan. Lusy bisa berjalan dengan senyum lembut nan manis karena baju yang dikenakan menuntutnya demikian, namun di lain waktu menjadi sosok ‘garang‘ dengan tatapan tajam karena menyatu dengan konsep busana sesuai keinginan desainer.
Pekerjaan sebagai dosen memang belum lama dia jalani. Lusy mulai mengajar di FIA UB pada September 2013. Saat itu, dia sudah menggeluti dunia model selama delapan tahun, sejak tahun 2005. Hingga sekarang, perempuan asli Malang ini menikmati keduanya, menjadi dosen maupun model.
Banyak pengalaman yang dialami Lusy selama menjalani karir di dunia modeling. Perubahan-perubahan dia alami, mulai perilaku, penampilan, bahkan pola pikir. Perubahan tersebut terus menerus dia lakukan, sebab Lusy memiliki satu tujuan, yakni menjadi wanita tangguh, layaknya Kartini.
"Selama menjadi model, saya mendapatkan banyak pelajaran soal kepribadian. Bersama Color Model Inc, saya tidak hanya menjadi wanita yang sekadar cantik, namun beretika dan berpendidikan," ujar Lusy kepada Malang Post, kemarin.
Berpendidikan inilah yang menjadi benteng bagi Lusy untuk meningkatkan derajat perempuan. Sebab perempuan saat ini, masih sering menjadi objek dalam perbuatan tidak terpuji, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual dan prostitusi. Lusy sendiri pernah mengalaminya. Selama menjadi model, dia melihat banyak pria yang merendahkan martabat model perempuan.
Menurut Lusy, beberapa oknum menganggap model sama dengan wanita 'murahan' yang bisa diperlakukan semaunya, apalagi oleh oknum pejabat. Misalnya, usai show langsung ada oknum pejabat bertanya apakah bisa 'berkencan' dengannya.
"Perbuatan seperti ini yang saya rasa merendahkan. Dalam kondisi ini, wanita harus berpendidikan agar bisa mengangkat derajatnya dan tidak direndahkan seperti ini," katanya.
Ia tidak memungkiri, para wanita di dunia model nan glamour banyak yang 'silau' dengan uang dan wajah cantik, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih meninggalkan kuliah. Namun Lusy tidak. Ia menyelesaikan S1 lalu melanjutkan pendidikan hingga ke magister. Tidak menutup kemungkinan ia akan meneruskan jenjang pendidikannya hingga ke S3.  
Dari segi penampilan, Lusy juga mengalami metamorfosa. Sejak 2013 lalu, perempuan berdarah Arab ini memilih untuk memakai jilbab. Sebab, entah mengapa ketika membaca Alquran dan sampai pada ayat yang menyatakan hukuman perempuan yang membuka auratnya itu cukup berat. Hatinya bergetar. Ditambah saat itu, dia melihat banyak perempuan tampak anggun dengan berjilbab.
Mengalami perubahan penampilan, Lusy mengaku lebih bisa menjaga diri. Jilbab baginya, menjadi benteng untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di sisi lain, meski memakai jilbab dia tetap aktif di dunia modeling spesialis untuk busana-busana muslim.
"Perubahan-perubahan inilah yang membawa saya beranggapan kalau perempuan Indonesia saat  ini  jangan sampai menyia-nyiakan perjuangan Kartini untuk mengangkat derajat kaum perempuan. Jadilah perempuan yang bermanfaat bagi orang lain, tidak takut untuk belajar ilmu apa saja, dan jadilah perempuan tangguh. Siapkan diri untuk jadi pemimpin, karena saat ini perempuan juga berhak menjadi pemimpin," pungkasnya. (erz/han)