Hari Ini, Ribuan Mahasiswa Memakai Sarung

MALANG - Memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober ini, Universitas Islam Malang akan mewajibkan seluruh warga kampus mengenakan sarung dan pakaian muslimah ala santri selama mengikuti kegiatan kampus.
Hal ini disampaikan, Wakil Rektor III Bidang Bidang Kemahasiswaan, Kegamaan, dan Publikasi Unisma, Dr. Ir. H. Badat Muwakhid, MP. Ia menyampaikan, dalam peringatan hari santri ini pertama kalinya Unisma mewajibkan penggunaan pakaian ala santri sebagai wujud apresiasi mengenang jasa pahlawan jihad Islam.
“Unisma sebagai perguruan tinggi berbasis agama Islam harus menunjukkan apresiasi yang besar bagi peringatan hari santri ini. Hal ini juga kami lakukan agar selama satu hari saja, seluruh warga kampus dapat mengenang jasa pahlawan santri mengusir penjajah,” ungkap pria yang akrab disapa Badat saat dihubungi, Selasa (21/10/15).
Ia meneruskan, peringatan hari santri dengan mewajibkan seluruh civitas akademika mengenakan pakaian ala santri ini juga dibarengi dengan pembukaan lustrum Unisma. Hal tersebut menjadi momen yang sangat tepat berkenaan dengan hari santri sekaligus hari penting pula bagi perguruan tinggi Islam seperti Unisma.
Yang lebih menarik, Badat melanjutkan, pada hari santri ini, pihak Museum Rekor Indonesia (MURI) akan mendatangi Unisma untuk menilai apakah Unisma dapat memecahkan rekor mengenakan baju ala santri terbesar di sebuah kampus dalam peringatan hari santri.
“Ya, ini juga merupakan kehormatan bagi kami. MURI tertarik mendatangi kami untuk melihat seberapa besar apresiasi yang kami berikan dalam peringatan hari santri ini. Semoga dapat lah,” tutur Badat.
Menurut Badat, Unisma sebagai kampus berbasis agama Islam memang sudah seharusnya mengamalkan seluruh unsure kesantrian dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kehidupan kampus.
Ia menambahkan, seluruh warga kampus Unisma harus mengetahui betul bagaimana bersosialisasi dan mengamalkan nilai keislaman ala santri sehingga dapat tercermin etika keislaman yang diharapkan di tengah gempuran globalisasi dan modernitas jaman.
“Insyaallah, tradisi mengenakan pakaian ala santri ini dapat dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Kemungkinan tidak hanya di hari santri saja, bisa jadi di beberapa peringatan lainnya juga. ini memang sepatutnya menjadi budaya yang harus dilestarikan,” tandas Badat.
Ia berharap, dengan adanya tradisi dalam peringatan hari santri ini, seluruh civitas akademika kampus Unisma dapat terus mengenang jasa pahlawan santri yang dahulu telah rela berkorban demi mempertahankan budaya islam.
Sehingga, lanjutnya, tidak hanya dalam berpakaian saja. Namun juga, dalam berperilaku dan pola pikir yang makin terbina dengan budaya Islam yang tidak hanya bisa didapat di bangku kuliah saja.