Hari Jadi Kabupaten, 21 atau 28 November

Ada hal menarik terkait nama stadion di Kota dan Kabupaten Malang, yaitu Stadion Kanjuruhan di Kepanjen dan Stadion Gajayana di Kota Malang. Nama "Kanjuruhan" juga digunakan untuk menamai perguruan tinggi (universitas), dan nama "Gajayana" unit Kereta Api (KA) jurusan Malang-Jakarta. Sebenarnya, Kanjuruhan adalah nama suatu kerajaan di lembah Kali Metro pada sub-area barat Kota Malang. Adapun Gajayana merupakan salah satu diantara tiga raja yang memerintah di kerajaan ini. Sebagaimana diberitakan oleh prasasti bertarikh 760 Masehi. Penanggalan dalam prasasti ini dijadikan petanda waktu Hari Jadi Kabupaten Malang.
Konon, prasasti yang kini lazim disebut "Prasasti Kanjuruhan" tersebut acap dinamai "Prasasti Dinoyo". Atau lebih spesifik lagi "Dinoyo I". Dinamai demikian karena salah satu pecahan dari prasasti ini, yakni pecahan yang terbesar, ditemukan di Dinoyo. Berikut ditemukan dua pecahan lainnya yang lebih kecil di Desa Merjosari dan di dusun kuno "Kejuron" Desa Karangbesuki. Menilik kesamaan toponiminya, ada kemungkinan lokasi awalnya di Dusun Kejuron. Bahkan, bukan tidak mungkin ibu kota kerajaan (kadatwan) Kanjuruhan berada di dusun ini. Sayang semenjak awal tahun 1980-an Dusun Kejuron digusur paksa, lantas dijadikan areal perumahan oleh PT. Sarana Tidar Indah. Ironisnya, stuktur bangunan bata, Yoni beserta sejumlah artefaknya lumat abadi lantaran sengaja dibolduser.
Sejauh telah ditemukan, Prasasti Kanuruhan adalah prasasti tertua di wilayah Jawa Timur. Tarikh yang tercantum berupa angka tahun (kromigram) 682 Saka (760 Masehi) dan berupa candrasangkala limbo "nayana (2) vasu (8) rasa (6) --》 dibaca dan dituliskan terbalik menjadi 6-8-2". Pertanggalan rincinya adalah "tahun Saka nayana-vasu-rasa bulan Margasirsa pada hari Jumat (Sukra), hari pertama dari pertanggalan bulan baru pada kumpulan bagian-bagian bulan yang gelap dan terang ......." (Poerbatjaraka, 1952:61-64).
Prasasti batu (linggoprasasti) yang pernah dibicarakan F.D.K. Bosh dalam TBG LVII 1916, dan TBG LIV 1924 dan OV 1933; R.M. Ng. Poerbatjaraka th. 1926, J.G de Casparis dalam TKNAG LXXXI 1941 maupun R.A Kern th. 1943 ini dibicarakan lebih lanjut oleh Tim Penggali Hari Jadi Kab. Malang (1984).
Penanggalan dalam prasasti ini dikonversikan ke dalam tarikh Masehi oleh Habib Moestopo dkk menjadi " 28 November 760", dan kemudian direkomendasikan sebagai petanda waktu bagi Hari Jadi Kabupaten Malang.
Ternyata, terdapat konversi lain dalam buku resmi dan standard "SNI (Sejarah Nasional Indonesia"Jilid II, edisi pemutakhiran 2008-2010 hal. 124 menjadi '21 November 760". Dengan demikian, ada selisih waktu tujuh hari antara dua konversi tersebut. Perbedaan itu perlu disikapi bijak oleh Pemkab Malang, agar tidak dari tahun ke tahun (sejak tahun 1984) tadak terjerembab ke dalam peringatan Hari Jadi yang salah.
Sebagai suatu sumber data masa lampau, Prasasti Kanjuruhan penting artinya: (1) sumber data sejaman tentang Kerajaan Kanjuruhan, satu-satu sumber data tekstual tentangnya; (2) prasasti tertua dan sekaligus memberitakan kerajaan tertua di Jawa Timur; (3) kendati masih memakai bahasa Sanskreta, namun prasasti ini yang terawal menggunakan aksara Jawa Kuna -- prasasti-prasasti lain yang lebih awal menggunakan aksara Pallawa dari India Selatan. Berdasarkan temuan prasasti inilah, terhitung sejak tahun 760 M itulah Jawa Timur beranjak memasuki "Jaman Sejarah"-nya atau "mengawali tradisi literal (keaksaraan)"-nya.
Posisi Peran Kerajaan Kanjuruhan
Sistem pemerintahan arkhais di Nusantara yang berupa "nagara" atau "karajyan (kerajaan)" adalah buah pengaruh pemerintahan dari Jambudwipa (India). Tidak semua daerah di Indonesia bersamaan waktu dalam mengawali era kemonarkiannya. Jawa Timur misalnya, baru memulainya pada medio abad VIII, dengan Kanjuruhan sebagai yang perdana. Kehadirannya hampir besamaan waktu dengan awal kerajaan Mataram, yakni berselisih wakfu sekitar setengah abad -- bermula pada akhir abad VII atau awal abad VIII M.
Pelansiran sistem pemerintahan kerajaan di Kajuruhan boleh jadi berlangsung pada pemerintahan Raja Dewa Simha, yakni ayah dari Gajayana. Menilik unsur namanya yang berkosa kata Sanskreta dan disebut paling awal diantara deretan tiga raja yang memerintah Kanjuruhan, cukup alasan untuk menyatakan Dewa Simha sebagai cikal bakal (vansakreta atau vamsakara) kerajaan Kanjuruhan. Beliailah prnguasa pertama di Jawa Timur yang pertamakali mrnjadi penangku budaya Hindu dan sekaligus pemimpin kerajaan yang bercorak India.
Jika kita hanya menilik informasi dalam Prasasti Kanjuruhan, ada kesan bahwa kerajaan ini hanya berdurasi pendek, yakni tiga generasi penguasa: (1) Dewa Simha, (2) Gajayana -- semula bernama (abhisekanama) "Limwa", dan (3) Uttejana. Prasasti ini ditulis atas perintah Gajayana, bertepatan dengan: (a) purna buat arca Rsi Agastya dari batu hitam -- mungkin jenis batu andesit berwarna kehitaman, sebagai pengganti arca Agastya terdahulu yang telah rusak dari kayu cendana; (b) bangunan suci (candi) yang dikuduskan oleh "Api Putikeswara (Lingga)" -- ada dua pendapat candi dimaksud, yaitu Candi Badut ataukah Candi Gasek, ataukan keduanya, yang lokasinya berdekatan; serta (c) asrama (srama) bagi rokhaniawan pengelola bangunan suci itu dan para peziarah.
Paparan data di atas memberi kita gambaran bahwa embrio pengaruh Hindu sekte Saiwa di lembah barat Kali Metro atau lereng bawah timur Gunung Kawi telah berlangsung pada pra-pemerintahan Gajayana. Amat boleh jadi sejak pemerintahan ayahnya (Dewa Simha). Oleh karena itu, dapat dipahami bila pada masa pemerintahan raja Gajayana arca Agastya dari kayu cendana tesebut telah dalam kondisi rusak. Bisa juga ditafsir bahwa bangunan suci (candi) telah terdapat pada masa pra-Gajayana, sehingga dharmma yang dilakukan oleh raja ke-2 Kanjuruhan itu lebih tepat untuk dikatakan "renovasi" terhadap bangunan suci yang telah ada dan penambahan fasilitas peribadatan yang berupa srama.
Degradasi Status Pemerintahan Kanjuruhan
Apakah Uttejana adalah raja terakhir di Kanjuruhan? Jika dijawab dengan "ya", bararti Kerajaan Kanjuruhan runtuh atau berakhir pasca pemeintahan Uttejana, yaitu sekitar akhir abad VIII. Jika kita mencermati data epugrafis dari masa yang lebih kemudian, diperoleh gambaran bahwa setidaknya masih terdapat dua hingga tiga raja lagi pasca Uttejana yang memerintah di Kanjuruhan sebagai kerajaan otonom, yakni hingga sekitar medio abad IX ketika Kanjuruhan turun status dari kerajaan otonom menjadi daerah bawahan (vasal) kerajaan Mataram dalam statusnya sebagai watak/watek yang dipimpin oleh pejabat rakai atau rakyran.
Kendati terjadi "turun" status dari kerajaan menjadi watak, namun nama awal masih dipertahankan. Hanya saja, ada sedikit beda penyebutan dari "Kanjuruhan" menjadi "Kanuruhan" atau "Kanyuruhan". Pemimpin watak tersebut karenanya disebut dengan "Rakryan Kanuruhan" Bisa jadi juga, semenjak itu pusat pemerintahan turut digeser dari lembah barat Metro ke arah utara di areal antara Brantas-Metro.
Degradasi status Kanjuruhan itu terjadi lantaran ekspansi wilayah kekuasaan kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah ke Jawa Timur, yang terjadi pada masa pemerintahan Balitung. Dalam perjalanan pemerintahan Mataram, Balitung tercatat sebagai yang mengawali ekspansi kekuasaan Mataram ke Jawa Timur. Salah satu kerjaan yang dianeksasi oleh Mataram itu adalah Kanjuruhan, yang terjadi pada medio VIII M. Indikator mengenai itu adalah adanya prasasti bertarikh 851 M dari daerah Singosari dan prasasti Kubu-kubu (905 M). Pada masa pemerintahan Balitung ini wilayah Malang Raya dibagi ke dalam dua watak, yaitu: (1) Watak Kanuruhan, yang berpusat di sub-area barat Kota Malang pada lembah antara Metro-Brantas, dan (2) Watak Hujung, yang bisa jadi berpusat di daerah Singosari -- terdapat dusun yang bernama "Ngujung", sebagai pergeseran penyebutan dari "Hujung".
Setelah pusat pemerintahan Mataram direlokasi dari Jawa Tengah ke Jawa Timur --tepatnya di Tamwlang, yang berlokasi pada lembah utara Bulu Brantas, yakni di kampung Tembalangan Kota Malang, oleh Pu Sindok (Sri Isana), jumlah watak di wilayah Malang Raya pun dimekarkan sebuah, yakni Watak Tugaran. Pada masa pemerintahan selanjutnya jumlah watak tersebut kian ditambah, sehingga Kanuruhan tinggal menjadi satu diantara beberapa watak di Malang Raya. Konsekuensinya, luas watak Kanuruhan tentulah menjadi lebih menciut dan posisi birokrasi Rakryan Kanuruhan tak sestrategis masa Mataram. Meski demikian, sebagai institusi pemerintahan, entah berstatus kerajaan otonom ataukah watak, Kanjuruhan/Kanuruhan mampu eksis hingga lintas masa (abad VIII-XV M).
Kontribusi Peran Kanuruhan
Kilas paparan terdahulu memberi kita cukup gambaran bahwa sebenarnya Kanjuruhan memiliki kontribusi yang penting. Bukan saja bagi kesejarahan Malang, namun juga bagi sejarah regional Jawa Timur Masa Hindu-Buddha. Namun demikian, Kerajaan dan Watak Kanjuruhan beserta peristiwa.dan tinggalan histori-arkeoligisnya kurang familier pada publik jika dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Jawa seperti Tarumanagara, Mataram, Kadiri, Singhasari dan Majapahit. Ironisnya, dalam buku pembelajaran sejarah di sekolah (SD - SLTA) kerajaan ini tidak dicantumkan, atau jika tercantum hanya sumir dibicarakannya
Kontribusi penting Kanjuruhan antara lain: (a) Prasasti 760 M yang ditulis atas perintah dari raja Gajayana adalah prasasti tertua di Jatim, b) tonggak waktu awal bagi Jatim untuk memasuki jaman sejarahnya, (c) petanda awal dari tradisi literal di Jatim. Demikian pula, (d) Kerajaan Kajuruhan, sejauh telah didapati data tekstual dan artefaktualnya merupakan kerajaan tertua di Jatim. Selain itu, (e) jejak tertua pengaruh religi Hindu dan sistem pemerintahan berbentuk nagara atau karajyan pun melekat pada kerajaan Kanjuruhan.
Cukup alasan untuk menyatakan bahwa Kanjuruhan adalah peletak dasar dan pencipta sistem sosial dan budaya yang teratur di Malang Raya. Fondamen inilah yang antara lain menjadi pertimbangan Pu Sindok untuk menempatkan kadatwan Mataram pada tahun 939 M di Tamwalang yang terletak di lembah utara Brantas wilayah Kota Malang. Lebih jauh lagi, modal sosio-kultural yang dibuahkan awal oleh kerajaan dan watak Kanjuruhan menjadi modal dasar dari masyarakat dan pemerintah di Malang untuk membangun pusat pemerintahan kerajaan Singhasari, pusat negara vasal Majapahit maupun pusat pemerintahan kerajaan Sengguruh di wilayah Malang.
Kehadiran Kerajaan Kanjuruhan menjadi picu bagi lahirnya areal perkotaan di lembah Metro dan Brantas, yang dalam lintas masa menjadi sentra pemerintahan dan peradaban. Oleh karena itu, tidaklah tepat bila dikatakan bahwa perkotaan di Malang baru hadir setelah Pemerintah Hindia-Belanda membentuk Gemeente (Kotapraja) Malang pada tahun 1914. Kota ini hanyalah salah satu etape kota dalam sejarah Malang, yang bercorak Kota Kolonial. Lebih dari kurun satu milineum sebelumnya, yakni pada abad VIII, telah lahir ancient city (kota kuno) yang dibidani oleh Kanjuruhan.
Peran Kanjuruhan yang demikian menjadi alasan tepat untuk menjadikan pertanggalan dalam Prasasti Kanjruhan sebagai petanda waktu bagi Hari Jadi Kapupaten Malang. Hanya saja, makna strategis dari isi prasasti ini sebagai latar historis bagi Hari Jadi tersebut jangan dilemahkan dengan kesalahan penetapan tanggal, yaitu tanggal 21 ataukah 28 November 760.
Pemkab Malang mustilah tergerak untuk menghitung ulang konversi pertanggalan Prasasti Kanjuruhan ke dalam tarikh Masehi. Bisa jadi tanggal 28 November, yang selama tiga dasawarsa ini terlanjur diperingati sebagai petanda Hari Jadi Kabupaten Malang, merupakan konversi pertanggalan yang salah. Jika terbukti demikian, maka kiranya memperbaiki SK Hari Jadi adalah jauh lebih elegan berpihak pada akurasi perhitungan konversi ketimbang bersikeras untuk terus memakai hasil konversi yang ternyata salah.(*)
Sengkaling, 25 November 2015