Hari Santri versus Resolusi Jihad

MALANG – Hari ini 22 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo menetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Penetapan HSN ini, sesuai dengan janji Jokowi saat kampanye tentang pentingnya Hari Santri Nasional, beberapa waktu lalu. Dengan penetapan HSN ini, maka eksistensi santri diakui di Indonesia.
Dipilihnya HSN pada 22 Oktober daripada 1 Muharam, karena ada pertimbangan dan makna di baliknya. Yaitu ketika tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad, yang akhirnya memicu peperangan 10 November 1945 di Surabaya. Ada fatwa dari Mbah Hasyim dan ulama NU kepada para santri untuk mengusir penjajah, setelah Indonesia menyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945.
Munculnya HSN ini sendiri, sebetulnya berangkat dari ide atau gagasan dari pengasuh Pondok Pesantren Babussalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang, yaitu KH Thoriq bin Ziyad. Ia yang pertama memiliki gagasan Hari Santri Nasional pada 1 Muharam. Ide tersebut muncul secara spontanitas pada 2009 lalu. Berawal dari perbincangan antar santri pada grup facebook (FB).
Grup facebook dulunya bernama ‘Aku Bangga Menjadi Santri.’ Grup tersebut tempat berkumpulnya para santri di seluruh Indonesia. Saat ngobrol sesama santri, Gus Thoriq dengan guyonan dan iseng-iseng menulis status ide membuat Hari Santri. Status itu mendapat tanggapan luar biasa dari santri lainnya. Beberapa santri mengusulkan tanggal untuk Hari Santri dengan alasannya.
“Namun akhirnya muncul usulan yang akhirnya disepakati pada 1 Muharam,” tutur Panglima Berkuda, nama dalam akun Facebooknya.
Meski mendapat dukungan para santri, tetapi kapan waktu pengukuhannya masih belum ditentukan. Namun Gus Thoriq yang berjuang supaya Hari Santri mendapat pengesahan, akhirnya mengadakan doa bersama sekaligus deklarasi Hari Santri bertepatan dengan 1 Muharam pada 18 Desember 2009.
Acara deklarasi saat itu sebetulnya sudah mengundang putra tokoh panutan santri se-Nusantara KH Hasyim Ashari yaitu KH Abdurrahman Wahid sebelum beliau wafat. Tetapi karena kondisi kesehatannya menurun, Gus Dur mewakilkan pada putrinya Yeni Wahid. Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga hadir, termasuk KH Kholil bin As’ad.
Ketiga tokoh agama tersebut hadir dalam acara deklarasi Hari Santri. Mereka mendukung 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional. Dukungan diberikan dengan tanda tangan di atas prasasti, yang sampai sekarang ini masih tersimpan.
Pada 1 Muharam 2010, Hari Santri sempat tidak diadakan. Namun pada 2011, Gus Thoriq yang juga Ketua Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Kabupaten Malang, kembali mengadakan kegiatan Hari Santri. Acara kali ini dihadiri oleh Anas Urbaningrum saat masih menjabat sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Anas juga mendukung dan mengapresiasi Hari Santri Nasional.
Kemudian pada 2012 Hari Santri ditempatkan di Universitas Jember, dengan dihadiri KH Said Aqil Siraj yang kini menjabat sebagai Ketua PBNU.  Beliau juga mendukung Hari Santri dengan memberikan tanda tangan pada secarik kertas. Dan bukti tanda tangan tersebut, sampai sekarang masih disimpan dan menjadi dokumen di Universitas Jember.
Selanjutnya pada 2013, peringatan Hari Santri di Ponpes Babussalam dirayakan dengan mengundang sekitar 70 ribu jamaah Riyadlul Jannah. Peringatan Hari Santri tidak dengan meniup terompet. Tetapi diisi dengan doa bersama dan kegiatan yang bermanfaat untuk keselamatan di dunia dan akhirat.
Keinginan Gus Thoriq dan para santri lainnya, supaya Hari Santri ini bisa menjadi hari nasional pada 1 Muharam, juga disampaikan kepada Jokowi saat berkunjung ke Ponpes Babussalam pada 27 Juni lalu. Jokowi menyatakan siap menjadikan 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional saat nantinya terpilih menjadi presiden. Janji Jokowi dituangkan dalam selembar kertas pernyataan yang ditandatangani dengan disaksikan puluhan kiai dan ribuan santri.
Lalu kenapa memilih 1 Muharam sebagai Hari Santri Nasional? Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Para penggagas menginginkan adanya kesatuan gerakan ilmiah dan diniyah di Indonesia, mereka juga mengharapkan adanya kerukuran para santri untuk membangun mental dan Bangsa Indonesia.
“Santri saat ini sudah memiliki banyak organisasi, mulai dari pusat sampai daerah. Hari Santri ini untuk menyatukan santri dengan memakai budaya Islam. 1 Muharam dipilih karena munculnya ide cerdas dari Umar bin Khattab melalui proses musyawarah dengan sahabat untuk menentukan suatu keputusan. Kami tidak menghilangkan sakral Muharam sebagai hari Islam. Tetapi dipilih untuk lebih menguatkan bahwa santri dan Islam tidak bisa dipisahkan,” terangnya.
Alasan lain, lanjutnya, karena ada kecemasan serta kekhawatiran kata santri akan diselewengkan ke arah yang tidak jelas. Maka sebelum terjadi, maka 1 Muharam kami usulkan dibuat Hari Santri Nasional supaya definisi santri tidak dijadikan komoditi.
Upaya Gus Thoriq untuk mewujudkan impian menjadikan 1 Muharram sebagai HSN, dilakukan tanpa henti. Mulai dari berkirim surat sampai mengirimkan lukisan berjudul ‘Nadzar Jokowi’. Lukisan berkuran besar yang dikirim beberapa waktu lalu tersebut, bergambar Jokowi dan ulama menunjukkan surat dukungan yang ditandatangani untuk menjadikan 1 Muharram sebagai Hari Santri Nasional. Lukisan tersebut, untuk menagih janji Jokowi.