Kantongi Modal,Sukses Buka Usaha

DESA  Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, selama ini memang dikenal sebagai ‘’Desa TKI’’. Tidak hanya warga yang berbondong-bondong bekerja ke luar negeri, melainkan terdapat pula purna TKI yang sukses merintis serta menjalankan usaha di desa tersebut. Modal yang diperoleh untuk menjalankan usaha itu, yakni dari  gaji mereka selama bekerja di luar negeri sebagai TKI maupun TKW.
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Arlina Sri Bawani mengatakan, dia mengapresiasi langkah warga purna TKI yang tidak bekerja kembali di luar negeri. “Eks maupun purna TKI yang tidak kembali bekerja di luar negeri, lebih memilih membuka usaha sendiri di desa ini. Lantaran telah memiliki modal yang cukup,” ujarnya kepada Malang Post.
Dijelaskannya, diantara beberapa usaha tersebut seperti swalayan, counter HP, bengkel, pencucian mobil dan sepeda motor, warnet, toko baju dan toko emas. Sebagian dari eks TKI tersebut juga bekerja sebagai petani, peternak dan budidaya ikan. Menurutnya, mereka yang membuka usaha di desa itu, pintar membaca peluang dan nantinya akan memperoleh keuntungan melebihi bekerja sebagai TKI.
“Banyak dari eks TKI itu, malah meraih keuntungan setelah bekerja dan membuka usaha sendiri. Artinya, bekerja di luar negeri sebelumnya, sebagai langkah mereka untuk mencari modal dan membangun usaha sendiri,” paparnya. Lanjut dia, hal ini patut ditiru oleh eks TKI dan TKI lainnya yang masih bekerja di luar negeri. Dikatakannya, masih terdapat eks TKI berpikiran konvensional.
Yakni eks TKI masih banyak yang kembali bekerja ke luar negeri. Menurut wanita berilbab ini, gaya hidup mereka yang tinggi, menuntutnya untuk kembali ke luar negeri. “Banyak dari mereka yang setelah pulang dari luar negeri, menghambur-hamburkan uangnya. Seperti membeli mobil dan membangun rumah. Harusnya, hasil mereka itu dipergunakan untuk modal usaha,” tegasnya.
Sehingga, masih kata dia, akibat dari pola hidup mewah itu, mengakibatkan mereka menghabiskan nuang hasil kerja selama ini menjadi TKI. Akibatnya, mereka kembali ke luar negeri dan bekerja lagi sebagai TKI. Menurutnya, seharusnya uang tersebut ditabung dan dipergunakan modal usaha.
“Cara pandang seperti ini, harus diubah. Supaya mereka tidak menggantungkan diri bekerja menjadi TKI,” tuturnya. Sementara itu, Kasi Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Malang, Sukardi mengatakan, selama ini desa itu penghasil TKI terbesar di Kabupaten Malang. Setiap tahunnya, setidaknya terdapat ratusan warga mendaftar sebagai TKI.
“Tentunya peran kami dalam hal ini, memberikan perlindungan kepada para TKI, termasuk para TKI dari Arjowilangun,” urainya terpisah. Dijelaskannya, perlindungan yang dimaksud yakni memberikan pemantauan secara berkala kepada para TKI. Selain itu, pihaknnya juga mengimbau kepada calon TKI, untuk melengkapi seluruh persyaratan dan melakukan pelatihan sebelum berangkat
Pihaknya juga menyeleksi dengan ketat, para calon TKI yang mendaftarkan diri berangkat bekerja ke luar negeri. “Kalau persyaratan tidak  dipenuhi, maka pengajuan berangkat kerja ke luar negeri, kami tolak. Hal itu bertujuan untuk melindungi para calon TKI. Supaya mereka kedepannya tidak memenuhi kendala maupun kesalahan, selama bekerja di luar negeri,” cetusnya.
]Diapun mengapresiasi eks TKI yang tidak kembali lagi bekerja ke luar negeri. Terlebih eks TKI itu, sukses berusaha sendiri di daerah asalnya. “Artinya, kondiisi perekonomian Kabupaten Malang mengalami trnd peningkatan. Hal itu dibuktikan dengan banyak usaha kecil menengah yang sukses dan juga banyak perusahaan yang menyerap tenaga kerja,” pungkasnya. (big/nug)