Letusan Bromo, Musibah Bagi Jasa Wisata

Suku Tengger menganggap letusan sebagai berkah. Namun bagi pelaku jasa wisata, ini adalah musibah. Sebab mereka sepi orderan akibat menurunnya jumlah wisatawan ke tempat itu. Khusus untuk jalur wisata dari Poncokusumo, saat ini hanya mengandalkan pendaki ke Gunung Semeru.
Seperti pagi kemarin, suasana di Pos Jemplang tampak ramai dari biasanya. Maklum, wisatawan berbondong-bondong ke tempat itu untuk menyaksikan dari dekat erupsi Gunung Bromo. Mayoritas wisatawan yang datang secara rombongan itu adalah remaja dan mahasiswa. Mereka ada yang menggunakan sepeda trail maupun menyewa jeep.
Namun, mereka tida bisa turun ke padang pasir, lantaran aksesnya ditutup akibat meningkatnya status gunung tersebut.
Walhasil, mereka cukup meyaksikan fenomena alam dari tempat itu saja. Sebagian dari mereka, ada yang mengabadikan moment itu melalui kamera ponsel dengan berselfie bersama teman-temannya.
Salah satunya penyedia jasa rental motor trail dan jeep. Abeng mengakui penutupan Bromo adalah musibah baginya. Menurut Abeng, selama diperbaiki jalan pos Jemplang hingga meletusnya Gunung Bromo saat ini, sepi orderan.
“Bahkan pernah lima hari berturut-turut saya tidak mendapatkan orderan sama sekali. Kondisi ini, diperparah meletusnya Gunung Bromo. Orderannya semakin sepi saja menjelang akhir tahun,” keluhnya.
Bila n ada orderan kata dia, maka melayani jarak jauh menuju penanjakan Kabupaten Probolinggo.
“Kalau beberapa hari terakhir ini, saya tidak ada pendapatan sama sekali,” imbuhnya.
Sedangkan kalau tiap harinya, dia biasa melayani rental trail sebanyak 10 unit orderan. Satu unitnya, disewakan seharga Rp 180 ribu untuk setengah hari. “Untuk saat ini, terpaksa saya banting harga menjadi Rp 150 ribu untuk setengah hari bagi penyewa trail,” tuturnya.
Sedangkan untuk persewaan jeep selama satu hari pulang pergi, dirinya mematok harga Rp 1,5 juta. Pada akhir pekan, sebanyak 15 unit jeep di bawah koordinasinya, laku diorder para pendaki. Sedangkan kali ini, orderannya tidak ada sama sekali.
Dia berharap situasi Gunung Bromo kembali normal. Sehingga, usahanya bisa menggeliat kembali. Toh, saat ini Hyang Brahma hanya sedang membakar kayu, mensucikan alam, menyuburkan kembali dunia tempat hidup warga Suku Tengger.(Binar Gumilang/ary)