Masih Ada Perbedaan Layanan di Kabupaten

MALANG - Masyarakat dan pasien di Kabupaten Malang, mengeluhkan sistem pelayanan BPJS Kesehatan. Terutama dalam hal penanganan maupun pelayanan saat berada di Rumah Sakit (RS). Masyarakat menganggap, penanganannya, tidak cepat dan justru cenderung rumit.
Seperti yang disampaikan salah seorang keluarga pasien di RSUD Kanjuruhan, Mafula, warga Kecamatan Bululawang ini. Menurutnya, BPJS Kesehatan, tidak bisa langsung dipergunakan di RS besar ataupun RS yang memadai. Melainkan harus terlebih dahulu mendapatkan surat rujukan dari bidan desa maupun puskesmas setempat.
“Kalau meminta surat rujukan puskesmas, selalu mendapatkan tanggapan negatif dari petugasnya. Kok selalu meminta rujukan terus sih?. Belum lagi pengurusan surat rujukan yang ribet,” ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Dikatakannya, tanggapan negatif itu, seperti menganggap bahwa dirinya dipandang sebelah mata maupun remeh.
Padahal, ia memang berasal dari kalangan yang tidak mampu dan membutuhkan BPJS Kesehatan tersebut. Belum lagi saat dirujuk di UGD, tidak mendapat pelayanan yang baik. Saat itu, ia tengah memeriksakan ibunya bernama Siti Suciati, 58 tahun,  yang menderita sakit gagal ginjal. Sehingga memerlukan cuci darah yang rutin.
“Setelah diperiksa di UGD, saya tidak mendapatkan kamar. Alasannya, kamar sedang penuh. Terpaksa ibu saya dirawat di UGD selama sehari semalam. Bahkan pernah suatu saat, dirawat di UGD selama tiga hari,” keluhnya.
Seharusnya, kata ia, sistem pelayanannya, harus ditingkatkan lebih baik lagi dan jangan membeda-bedakan. Yang ia sesalkan, pelayanan antara pasien menggunakan BPJS Kesehatan dengan pasien umum, dibedakan.
“Kalau pasien umum, tentunya dipercepat penanganannya. Karena memang membayar kepada RS langsung,” tuturnya.
Hal yang sama diutarakan oleh Ngatemun, 55 tahun, warga Kecamatan Ampelgading. Menurutnya, pasien BPJS Kesehatan, terlalu lama mengantre di RS. Padahal, pasien BPJS Kesehatan, mempunyai hak yang sama dengan pasien umum.
“Kalau pasien BPJS Kesehatan, selalu lama penanganannya. Kalau mempunyai penyakit yang berbahaya, harus cepat mendapatkan penanganan,” keluhnya.
Akibatnya, ia terpaksa merogoh kocek untuk mempercepat penanganannya. Sementara itu, Sulastri, juga mengeluhkan hal yang sama. Yakni penanganan di klinik yang terlalu lama dan ribet. Sehingga, membuang waktu karena harus menunggu dan bolak-balik ke daerah asalnya, untuk mendapatkan surat rujukan.
“Sebenarnya BPJS Kesehatan ini, bermanfaat bagi masyarakat. Namun, mekanisme maupun sistemnya yang ribet. Harus mendapatkan rujukan terlebih dahulu dari puskesmas dan ini membuang-buang waktu tentunya,” paparnya.
Namun, kata dia, manfaat dari BPJS ini adalah banyak jenis penyakit yang tercover. Sehingga, hal itu mempemudah masyarakat maupun pasien untuk berobat.(mg6/big/ary)