Mengunjungi ‘’Desa TKI’’ di Kalipare

KALIPARE – Sejak era  tahun 1990 silam, masyarakat Desa Arjowilangun Kecamatan Kalipare Kabupaten Malang  berbondong-bondong kerja ke luar negeri. Tujuan mereka bekerja ke luar negeri, guna memperbaiki kehidupan yang  carut marut. Pilihan mereka  terbukti sangat tepat. Mayoritas warga desa tersebut akhirnya berhasil  meraih sukses sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Arlina Sri Bawani mengatakan, saat ini pemasukan uang dari para TKI ke desa tersebut, mencapai   sekitar Rp 3,5 miliar  per bulan. “Saat ini, gaji mereka (Para TKI) paling sedikit adalah Rp 10 Juta per bulannya. Paling tidak, setengah dari gaji mereka tiap bulannya, dikirimkan ke keluarganya yang ada di desa ini,” ujar Arlina kepada Malang Post. Dijelaskannya, saat ini di desa tersebut terdapat 700 orang yang bekerja sebagai TKI maupun TKW. Ada beberapa negara tujuan, bagi para TKI dan TKW tersebut.
Diantaranya, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. “Korea Selatan menjadi pilihan utama warga di desa ini, untuk bekerja di luar negeri,” imbuhnya. Menurutnya, bukan tanpa alasan memilih negara tersebut. Diantaranya, gaji yang menjanjikan, kehidupan di negara itu yang masih murah dan suasana bekerja yang nyaman.
Dikatakannya, setidaknya terdapat 315 warga Desa Arjowilangun, bekerja di negara yang terkenal akan K-Popnya tersebut. “Selain itu, lingkungannya sangat bersahabat, dibandingkan dengan Arab Saudi. Saat ini, tidak ada warga kami yang bekerja di Arab Saudi. Lantaran terdapat peraturan pemerintah yang melarang warga Indonesia bekerja di negara-negara kawasan  Timur Tengah,” tutur wanita berjilbab ini.
Dia merinci, bila dirata-rata para TKI mendapatkan gaji Rp 10 juta, maka separuhnya   akan disisihkan untuk dikirimkan kepada keluargannya yang ada di Desa Arjowilangun. Dengan demikian jika Rp 5 juta (separuh gaji,red)  dengan 700 warga yang bekerja di luar negeri, berarti total uang masuk adalah Rp 3,5 Miliar. Uang itu dikirimkan melalui jasa Kantor Post dan Western Union.
“Sehingga, kehidupan perekonomian mereka beserta keluarganya menjadi terdongkrak. Kondisi pembangunan yang ada di desapun, menjadi berkembang,” urainya. Dijelaskannya, kontribusi yang diberikan buruh migran kepada desa yakni hot mix jalan, memperbaiki drainase kampung, membangun pos kamling, merenovasi Polindes Desa dan pemberdayaan masyarakat.
“Pengaspalan jalan di desa ini, juga berkat uang dari para TKI tersebut. Mereka dengan swadaya melakukan pembagunan tersebut,” terangnya. Imbas positif dari hal itu, kata dia, desa yang terletak di tengah-tengah hutan jati itu, selangkah lebih modern ketimbang desa lainnya di Kabupaten Malang. Hal itu ditunjukkan dengan tertatanya pemukiman yang ada di desa tersebut.
Selain itu, di desa itu telah berdiri  swalayan modern, counter HP, Teras BRI dan Warnet. Diapun mengapresiasi keberadaan TKI ini, yang turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang ada di desa tersebut. (big/nug)