Menuju Sweet Seventeen Malang Post 1 Agustus 2015 (5)

Pertambahan usia ke-17, sering dikenal di masyarakat dengan istilah sweet seventeen. Ini merupakan masa titik balik pada seorang manusia untuk mematangkan kehidupan. Pada usia ini, Malang Post mampu memposisikan diri sebagai media lokal yang menginspirasi bahkan jadi pelopor kebijakan hingga nasional.

Perjuangan yang telah dilakukan para karyawan Malang Post di masa lalu, tidak boleh disia-siakan. Besarnya semangat para perintis saat itu, sampai hari ini harus terus dipelihara. Karena ini bisa menjadi modal di kemudian hari agar tak henti-hentinya "mengepakkan sayap" menuju ke tingkat yang lebih tinggi.
Keyakinan bahwa Malang Post akan terus menjadi media besar, sampai saat ini masih terus terjaga. Hal ini, karena dalam perjalanannya selama 17 tahun, banyak prestasi dan capaian yang harus menjadi kebanggaan.
Prestasi dan capaian Malang Post, sudah mulai terlihat sejak awal-awal Malang Post berdiri. Baru berjalan beberapa bulan, Malang Post sudah bisa menarik perhatian pejabat daerah di Kota Malang. Momen berdirinya Malang Post, memang bertepatan dengan momen Pilkada di Kota Malang. Saat itu, Kolonel H Suyitno yang terpilih sebagai Wali Kota Malang. Di hari pertama dilantik, ia langsung mengunjung kantor Malang Post.
Ini merupakan sebuah kebanggaan di kala itu dan sampai sekarang, kegiatan tersebut menjadi tradisi. Siapa saja wali kota yang terpilih, pada hari pertama ia dilantik, kantor Malang Post akan selalu dikunjungi.
Kebanggaan lain bagi Malang Post, adalah saat masa transisi menuju era digital. Media-media lain di Malang Raya masih menggunakan kamera negatif, pasca mengambil foto di lokasi liputan, fotografer harus mengantre cetak foto di studio. Di tengah kondisi itu, Malang Post sudah memiliki kamera digital. Ya, Malang Post saat itu menjadi media pertama yang telah menggunakan kamera digital.
Pada segi pemasaran, Malang Post merupakan koran pertama yang memulai strategi pemasaran menggunakan pamflet. Strategi ini memang sudah dilakukan oleh media-media lain di luar Malang. Tapi di sini, Malang Post lah yang memulai strategi pemasaran ini pertama kali. Hasilnya, strategi pamflet berhasil membuat perhatian para pejabat di Malang Raya, tertuju pada koran ini, termasuk TNI dan Polri.
Malang Post juga berhasil mencetak kader-kader tangguh yang saat ini sudah berkiprah di bidang jurnalistik dan non-jurnalistik. Karakter tangguh ini terbentuk berkat proses yang dijalani mereka selama di Malang Post. Ya, beberapa tahun setelah berdiri, Malang Post mengadakan rekrutmen karyawan. Model rekrutmen yang digunakan, berupa pelatihan jurnalistik. Saat itu, banyak aktivis mahasiswa yang tertarik untuk bergabung dalam pelatihan tersebut. Mereka ingin belajar jurnalistik untuk menyalurkan idealismenya.
Setelah pelatihan, beberapa peserta terbaik diangkat menjadi wartawan magang di Malang Post. Selama proses tersebut, mereka digodok agar memiliki karakter wartawan yang tangguh. Begitulah, karena penggodokan di Malang Post kepada wartawannya saat itu sangat baik. Para wartawan sering diberi bengkel wartawan, diskusi-diskusi mengenai isu-isu hangat, sampai kegiatan-kegiatan lain yang bisa meningkatkan kualitas dan karakter kewartawanan mereka.
Banyak contoh wartawan, maupun mantan wartawan Malang Post yang saat ini sukses menjalani karirnya, baik di dunia jurnalistik, maupun di luar dunia jurnalistik. Seperti Bagyo Prasasti Prasetyo yang pernah menjabat sebagai Ketua KPU Kota Batu, Suryo Eko Prasetyo yang sekarang menjadi redaktur di Jawa Pos, termasuk Pemimpin Redaksi Radar Malang Abdul Muntholib, Manajer Iklan Radar Malang Mardi Sampurno dan Redaktur Foto Radar Malang MP Doli Siregar, mereka merupakan orang-orang yang pernah menjalani penggodokan karakter di Malang Post.
Untuk para karyawan sendiri, juga banyak yang telah berkiprah di luar dunia jurnalistik, Mahmudi Muchid (redaktur), saat ini menjabat sebagai sekretaris PCNU Kota Malang. Muhaimin (redaktur) sebagai pengurus KONI Kota Malang bersama dan Husnun D Djuraid (komisaris). Husnun juga merupakan pengurus Muhammadiyah Kota Malang. Ada juga R Sri Nugroho yang menjadi sekretaris di tiga organisasi kepemudaan. Hal ini berarti, Malang Post betul-betul menempatkan orang-orangnya sebagai bagian dari Kota Malang.
Karena itu, di usia 17 tahun ini, Malang Post harus lebih maju lagi. Saat ini, Malang Post sudah berkembang sebagai induk perusahaan Malang Post Group, dengan Malang Ekspres sebagai anak perusahaannya. Pada usia 20 nanti, Malang Post juga akan merambah ke media-media lain, seperti televisi, radio atau online.
Baru pada usia ke-25, Malang Post sudah menjadi media besar, dengan begitu, bidang bisnis lain bisa digeluti. Di usia ke-25 ini, masa generasi perintis sudah habis. Giliran generasi selanjutnya yang akan mengembangkan koran ini. Inilah bagian dari skenario, yang sejak dulu digagas oleh para perintis Malang Post.(sambungan)