Menuju Sweet Seventeen Malang Post 1 Agustus 2015 (6)

Kenapa harus membuat local newspaper,  kalau bisa membuat yang lebih besar cakupan beritanya. Apa menariknya membesarkan koran lokal, justru ketika batas antar wilayah, sudah ter-nisbi-kan oleh dunia maya dan kemajuan teknologi. Ternyata sangat menarik sekali. Berikut catatan Sunavip Ra Indrata, mantan Pemimpin Redaksi Malang Post.

Dalam setiap pertemuan antar pengelola media. Termasuk saat diskusi kecil dengan banyak kolega, pertanyaannya nyaris sama. Kenapa Malang Post, harus memilih konten lokal. Bahkan kebijaksanaan redaksi, terutama di halaman satu yang menjadi etalase koran, sebesar apapun kejadian di Jakarta (baca nasional), jika di lokal Malang, ada yang lebih menarik, lupakan berita nasional.
Terkadang pembaca – termasuk kolega – juga tak habis pikir. Saat heboh-hebohnya pemilihan presiden, Malang Post, justru asyik mengangkat sukses Arema menang di luar kandang. Plus menjadikan sebagai headline.
Padahal semua koran nasional, mengangkat pemilihan presiden itu, sebagai sajian utama. Lengkap dengan grafis dan data pendukung.
Bukan tanpa alasan kalau Malang Post, memang menempatkan diri sebagai koran lokal di Malang Raya. Karena sejak dilahirkan, Korane Arek Malang ini, memang konsen menyuguhkan konten-konten lokal.
Dalam suatu kesempatan di Lampung, sekitar 2009 lalu, pengusaha besar Indonesia, Tomy Winata, sempat terperanjat ketika tahu ada Malang Post, dalam jamuan makan malam di sebuah pulau berjarak setengah jam dari bibir pantai, yang menjadi ‘kerajaannya’.
‘’Memang Malang Post akan memberitakan isu-isu nasional? Termasuk rencana pembangunan jembatan Selat Sunda? Apa menariknya isu tersebut,’’ sebut pemilik Grup Artha Graha ini.
Malang Post, memang tidak menjadikan isu nasional, sebagai sajian utama. Meski bukan lantas, berita nasional – bahkan internasional – tidak ada di Malang Post.Tetapi kalau orang Jakarta ingin mengetahui apa yang terjadi di Malang Raya, silakan baca Malang Post. Dan dijamin, kabar-kabar itu tidak ada di koran nasional.
Namun ketika Malang Post – yang menjadi satu-satunya wakil media dari Malang Raya – hadir dalam pertemuan puncak Forum Pemimpin Redaksi se Indonesia di Nusa Dua Bali, 2013 lalu, justru kebanggaan muncul sebagai koran lokal.
Apalagi ketika banyak pertanyaan seputar isu-isu kedaerahan, banyak dilontarkan kepada koran lokal, yang menjadikan level koran lokal dan nasional, tidak ada bedanya.
Justru karena faktor lokalitas itulah, yang menjadikan Malang Post, selalu dicari dan menjadi jujukan, siapapun yang membutuhkan informasi di Malang Raya. Termasuk ketika ada yang butuh referensi tentang segala sesuatu. Karena sebagai koran lokal, jelas yang paling tahu tentang kejadian di daerah tersebut.   
Dan Malang Post, juga selalu menjadi acuan bagi orang-orang daerah, ketika ingin menciptakan koran lokal. Termasuk diantaranya, bagaimana belajar mengelola koran lokal, yang justru harus bersaing ketat dengan ‘induknya’ sendiri.
Tak heran di setiap even pertemuan pemimpin redaksi Jawa Pos Group, sebagai salah satu koran dari sekitar 256 media yang ada, Malang Post terus menjadi perhatian. Salah satunya adalah karena Malang Post, terus eksis dan semakin besar, sekalipun persaingan antar media, semakin ketat.
Belum lagi saat Malang Post juga sampai harus mengejar liputan keluar negeri, hanya untuk memuaskan dahaga informasi bagi warga Malang Raya.
Kondisi itu membuat tak ubahnya sebuah koran lokal, yang sudah berkiprah sebagaimana koran nasional. Apalagi sajian yang diberikan, tak kalah menarik dengan sajian-sajian koran level nasional.
Bahkan tidak jarang, apa yang disajikan Malang Post, jauh melebihi apa yang diberikan kepada koran nasional. Terbukti, banyak sekali berita-berita Malang Post, menjadi referensi bagi pembawa acara maupun komentator sepakbola, ketika membahas tentang sebuah pertandingan.
Mereka bisa mengakses informasi, dari Malang Post online, maupun cuplikan-cuplikan berita Malang Post, yang dishare melalui dunia maya. Termasuk komunitas warga dari Malang Raya di luar Jawa, menjadikan Malang Post, sebagai obat pelepas rindu. Ketika mereka membaca Malang Post, mereka merasa seakan-akan sedang berada di Malang.
Dan saat ini, Malang Post sudah berada di usia 17 tahun. Entah sudah berapa banyak berita-berita yang disodorkan, bisa menjadi sumber informasi. Karena kami tidak pernah menghitungnya.
Yang kami lakukan, hanyalah terus ingin memberikan yang terbaik. Agar semua orang di Malang Raya, atau siapapun yang ingin dan merasa menjadi arek-arek Malang, ikut merasa bangga, memiliki sebuah media, yang bisa menjadi teman dalam kondisi apapun juga. (bersambung)