Museum Brawijaya Bercerita tentang 10 Nopember

KOLEKSI yang berhubungan dengan Hari Pahlawan di Museum Brawijaya di Jalan Ijen 24 A, Kota Malang, terbagi dalam dua tempat utama. Pertama berada di halaman depan, sementara yang kedua di ruang koleksi 1.
Begitu memasuki depan museum, tank buatan Jepang hasil rampasan Arek-arek Suroboyo, menyambut. Rampasan pada bulan Oktober 1945 pada akhirnya dipakai untuk melawan sekutu dalam perang 10 November 1945. Tank ini, berlapis baja sehingga aman dari tembakan musuh. Berkapasitas dua orang, satu orang sebagai pengendara, satu lagi merupakan yang pengoperasi tembakan ke musuh.
“Dua lagi, tepat di kanan kiri tank adalah Pompom Double Loop yang direbut oleh BKR. Ini merupakan senjata penangkis serangan udara,” kata Kabintaldam V/ Brawijaya Letkol CAJ Drs. Muhammad Rifai, S.Ag.
Di Ruang Koleksi I, terdapat meja kursi perundingan Mallaby yang didapat dari Kantor Gubernur Jatim. Kursi berwarna kalem ini, masih terlihat bagus dan terawat berbungkus plastik. Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat koleksi lukisan jenderal tersebut.
Agak beranjak ke barat, beberapa senjata juga terdapat di sana. Misalnya SMR Lewis M 197, SMR MK I.M 1942 yang berasal dari Amerika. SMR Japan dengan caliber 6,5 mm dari Jepang, SMR Bruno dengan caliber 7,62 mm dari Italia. “Museum ini bisa menceritakan banyak hal tentang perjuangan rakyat Indonesia. Baik ketika menggapai Kemerdekaan hingga mempertahankannya,” papar dia panjang lebar.
Terdapat pula Karaben, yang ditemukan di Surabaya. Koleksi ini tersimpan rapi di sisi timur Ruang Koleksi 1. “Ini juga ada hubungannya dengan perjuangan 10 November. Paling banyak koleksi senjata,” tambah dia.
Di ruang ini, banyak koleksi pula foto-foto mantan panglima, seragam, hingga mobil De Soto, yang tak kalah menarik ketika mempelajari sejarahnya. Sementara, Ruang 2 terdapat koleksi dari tahun 1950. Di ruangan ini terdapat benda-benda bersejarah seperti komputer yang digunakan pada masa itu, foto-foto menceritakan operasi khusus yang dilakukan dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di Indonesia, dan juga terdapat foto-foto Kota Malang tempo dulu.
Sedangkan di halaman tengah, pengunjung akan diperlihatkan 2 buah benda bersejarah yang memiliki cerita tersendiri sehingga memberikan nama yang menarik pada kedua benda tersebut. Nama pada kedua benda tersebut adalah “Gerbong Maut” dan “Perahu Sigigir”.
Kepala Museum Brawijaya Malang, Kapten CAJ (K) Luluk Lutminarti mengatakan, Kota Malang ini beruntung memiliki satu lokasi peninggalan sejarah. Tidak hanya itu, dia mengundang agar banyak pihak mengunjungi tempat ini. “Sayang sekali jika tidak pernah mengunjungi museum dan mempelajari warisan perjuangan bangsa. Masuk ke sini pun sangat murah, hanya Rp 3.000 saja,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, museum yang dibangun atas prakarsa Brigjen TNI (Purn) Soerachman Pengdam VIII/BRW Tahun 1959 – 1962 itu, juga segera mendapatkan sentuhan modernitas. “Jika tidak ada halangan dan pengajuan disetujui, museum ini akan tampil dengan konsep modern. Agar semakin banyak orang datang ke tempat ini,” tambahnya.
Luluk pun menitip pesan, agar anak muda sekarang, bisa menghormati jasa Pahlawan. Sebagai penerus bangsa, dia mengajak untuk mengisi dan mempertahankan Kemerdekaan NKRI, layaknya pejuang di Surabaya, 70 tahun lalu.
“Caranya, mari cintai museum, sebab dari sini banyak pelajaran sejarah cikal bakal berdirinya NKRI,” pesan dia, sekaligus menyampaikan hal ini kepada empat pengunjung yang sedang berada di Museum Brawijaya, Eka Niswi, Restu Agus, M. Sofi dan Kumalasari. (ley/udi)