Museum Brawijaya Diserbu Pelajar

MALANG – Museum Brawijaya Malang menjadi jujukan anak-anak yang merupakan TK dan SD, bertepatan dengan peringatan 70 Tahun Hari Pahlawan, Selasa 10 November, kemarin. Anak-anak ini merupakan generasi penerus, yang antusias belajar akan perjuangan rakyat Indonesia. Baik ketika menempuh kemerdekaan maupun mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pemandu Museum Brawijaya Malang, Muchammad Abidullah Tabiin mengatakan, ketimbang biasanya, kemarin kuantitas pelajar yang datang lebih besar. “Sejak pagi hari, ada beberapa rombongan TK dari Kota Malang yang datang. Selain itu dari SD juga,” katanya.
Menurut dia, kedatangan pelajar berbarengan dengan Hari Pahlawan ini untuk belajar berbagai peninggalan sejarah. Terutama semua hal yang berhubungan dengan peristiwa pertempuran melawan Sekutu di Surabaya, yang berlangsung sejak 10 November 1945. “Mereka belajar sejarah perjuangan, berkeliling museum serta mengerjakan tugas dari sekolahnya,” beber dia kepada Malang Post.
Dia menyebutkan, hal ini membuat Museum Brawijaya terlihat lebih padat daripada hari-hari sebelumnya. Hingga jelang siang hari, pengunjung masih terhitung padat. “Setelah siang hari, giliran anak muda yang mengunjungi museum. Tetapi banyak yang pagi hari,” tambah dia.
Sementara itu, koleksi yang berhubungan dengan Hari Pahlawan di Museum Brawijaya, yang beralamat di Jalan Ijen 25 A, Kota Malang, terbagi dalam dua tempat utama. Pertama berada di halaman depan, sementara yang kedua di ruang koleksi 1.
Begitu memasuki depan museum, tank buatan Jepang hasil rampasan arek-arek Suroboyo, menyambut. Rampasan pada bulan Oktober 1945 pada akhirnya dipakai untuk melawan sekutu dalam perang 10 November 1945. Tank ini, berlapis baja sehingga aman dari tembakan musuh. Berkapasitas dua orang, satu orang sebagai pengendara, satu lagi merupakan yang pengoperasi tembakan ke musuh.
“Dua lagi, tepat di kanan kiri tank adalah Pompom Double Loop yang direbut oleh BKR. Ini merupakan senjata penangkis serangan udara,” tegas Kabintaldam V/ Brw Kolonel CAJ Drs. Moch. Rifai.
Di Ruang Koleksi I, terdapat meja kursi perundingan Mallaby yang didapat dari Kantor Gubernur Jatim. Kursi berwarna kalem ini, masih terlihat bagus dan terawat berbungkus plastik. Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat koleksi lukisan jenderal tersebut.
Agak beranjak ke barat, beberapa senjata juga terdapat di sana. Misalnya SMR Lewis M 197, SMR MK I.M 1942 yang berasal dari Amerika. SMR Japan dengan caliber 6,5 mm dari Jepang, SMR Bruno dengan caliber 7,62 mm dari Italia. “Museum ini bisa menceritakan banyak hal tentang perjuangan rakyat Indonesia. Baik ketika menggapai kemerdekaan hingga mempertahankannya,” papar dia panjang lebar.
Terdapat pula Karaben, yang ditemukan di Surabaya. Koleksi ini tersimpan rapi di sisi timur Ruang Koleksi 1. “Ini juga ada hubungannya dengan perjuangan 10 November. Paling banyak koleksi senjata,” tambah Rifa’i.
Di ruang ini, banyak koleksi pula foto-foto mantan panglima, seragam, hingga mobil De Soto, yang tak kalah menarik ketika mempelajari sejarahnya. Sementara, Ruang 2 terdapat koleksi dari tahun 1950. Di ruangan ini terdapat benda-benda bersejarah seperti komputer yang digunakan pada masa itu, foto-foto menceritakan operasi khusus yang dilakukan dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di Indonesia, dan juga terdapat foto-foto Kota Malang tempo dulu.
Sedangkan di halaman tengah, pengunjung akan diperlihatkan 2 buah benda bersejarah yang memiliki cerita tersendiri sehingga memberikan nama yang menarik pada kedua benda tersebut. Nama pada kedua benda tersebut adalah “Gerbong Maut” dan “Perahu Sigigir”.
Sementara itu, Sabtu-Minggu (14-15 November) ini, di Museum Brawijaya akan berlangsung peringatan Hari Pahlawan. Tepatnya di halaman samping, mulai pukul 18.00 WIB rangkaian acara seperti ludruk Kartolo Cs, pemutaran film documenter, hiburan rakyat dan kembang api. Sementara, Minggu akan berlangsung pasar murah, pengobatan gratis, donor darah hingga lomba menggambar. (ley/ary)