Semangat Bawa Malang Post Tetap Berkibar

Sweet seventeen Malang Post pada 1 Agustus 2015 mendatang, juga tidak luput dari andil sosok bernama JI Junaedi, yang turut menjadi generasi pertama Malang Post. Dicomot dari Jawa Pos, dia menjadi redaktur dan merasakan bagaimana susah dan senang membesarkan koran yang paling diburu oleh Aremania ini. Berikut catatan semangat yang dia bagikan sebagai kado spesial bagi Malang Post di tahun ini.
Semangat. Itu yang selalu tertanam di benak semua awak Malang Post. Dalam berbagai hal, semangat akan menghasilkan perasaan senang, yang berujung positif bagi perusahaan, termasuk menghadapi permasalahan berat untuk membesarkan Malang Post.
Dalam membesarkan media ini, memang ada suka dan duka. Menyamakan visi dan membentuk gaya penulisan pada wartawan waktu itu, tidaklah mudah. Apalagi, sebagian besar kru sudah berbasic sesuai dengan medianya masing-masing sebelumnya. Taste masih campur-campur. Perlu beberapa waktu, agar taste menjadi pure Malang Post, sesuai dengan daya sebar koran dan pasarnya.
Lepas dari penyamaan taste, yang harus diperhatikan merupakan kualitas produk. Berbicara kualitas produk, tidak lepas dari hasil tulisan, karya dari redaksi.
Redaksi yang berkualitas, juga diperoleh dari sebuah proses. Tidak heran, bila selesai penulisan bisa di atas jam 21.00 WIB. Rapat dan bengkel wartawan, bisa sampai pukul 01.00 dinihari. Lelah memang, tetapi untuk hasil yang maksimal, kembali lagi, semangat tetap ada.
Dulu, pernah diterapkan pula denda bila ada kesalahan penulisan agar mendapat koran yang bagus, minim dari kesalahan. Sehingga, wartawan menulis sangat hati-hati, redaktur mengedit dengan sangat teliti. Tetapi itu tidak menjadi soal, sebab memang tumbuh semangat dari diri semua personil. Bila ingin produk diterima, harus memiliki skill bagus untuk menghasilkan koran yang bagus dan diminati masyarakat di Malang Raya.
Tahun 1998, tidaklah sama dengan saat ini. Komputer masih terbatas, apalagi koneksi jaringan. Beruntung, Malang Post dikelilingi orang yang baik hati. Awal berdiri yang sulit, selalu mendapat support dari pihak lain, misalnya BTC.
Komputer yang minim, tertolong dengan kesempatan mengetik di BTC, Jalan Pajajaran. File disimpan di disket, dan dibawa ke Jalan Arjuno, untuk diserahkan kepada redaktur. Masih banyak lagi yang berandil dalam keberadaan Malang Post, hingga saat ini.
Perlahan, dari perusahaan yang termasuk tidak padat modal, Malang Post melengkapi diri. Komputer milik sendiri mulai digapai untuk memudahkan pekerjaan dan akhirnya akan berusia 17 tahun.
Masih teringat pula, bagaimana awalnya koran ini menjadi disukai Aremania dan Aremanita. Dulu, demi menulis yang bagus dan semakin identik sebagai jawaban bagi penggila Singo Edan, tidak jarang wartawan dan redaktur, menonton langsung pertandingan. Tidak hanya yang kebagian menulis berita saja. Tidak juga ketika bermain di kandang. Hasilnya, kini banyak masyarakat di Malang, selalu ingat Malang Post bila ingin mengetahui info tentang Arema.
Semua keberhasilan Malang Post, selama hampir 17 tahun, tidak luput darj tumbuhnya semangat, dari generasi ke generasi. Rasa itu harus ditularkan kepada anak baru ataupun kawan yang mulai sedikit lesu. Tujuan utamanya, semua tetap visi, tetap menggeliat, untuk berkibarnya Malang Post.