Terbit Perdana Didoakan Almarhum Imam Kabul

Oleh : Husnun N. Djuraid
Niat untuk segera menerbitkan Malang Post begitu menggebu. Semua karyawan ingin segera melihat koran baru segera terbit, meskipun sebenarnya masih banyak hambatan yang dihadapi. Pada awalnya koran perdana ini akan diterbitkan pada tanggal 27 Juli 1998, untuk mengenang peristiwa berdarah kerusuhan penyerangan kantor PDI di Jakarta pada tanggal yang sama, tapi rencana itu dibatalkan. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan terbit perdana pada tanggal 1 Agustus, bukan karena ada pertimbangan khusus, biar mudah saja untuk mengingatnya. Sedangkan rencana terbit pada tanggal 27 Juli tetap dilaksanakan sebagai uji coba sebelum terbit yang sesungguhnya.
Kalau dilihat dari persiapan SDM tidak ada masalah karena semua yang terlibat di Malang Post sudah berpengalaman bekerja di koran. Ada yang jadi wartawan, redaktur, bagian pemasaran, iklan dan pracetak. Dukungan inilah yang menimbulkan optimisme untuk bisa segera menerbitkan koran, apalagi para awak Malang Post ingin segera punya koran lagi yang menjadi kebanggaan mereka setelah sebelumnya sudah mengelola beberapa koran. Semangat mereka sangat besar, mampu mengalahkan berbagai keterbatasan yang mereka hadapi. Bayangkan, kala itu hanya ada satu komputer yang digunakan untuk lay out, sedangkan untuk kebutuhan lain, seperti menulis dan mengedit berita masih sangat kurang.
Sehari menjelang terbit uji coba pada tanggal 27 Juli itu semua sudah siap untuk bekerja all out. Kebetulan saat itu terjadi bencana alam gunung Merapi di Jawa Tengah meletus yang ditandai dengan turunnya awan panas yang populer disebut wedus gembel. Dalam rapat redaksi sebelum terbit akhirnya diputuskan peristiwa tersebut sebagai head line halaman pertama, setelah diperoleh berita dari JPNN dan kantor berita. Masalahnya belum selesai, karena peristiwa itu tidak menarik kalau tidak ada fotonya, seperti kaidah berita yang dianut oleh koran-koran grup Jawa Pos. Meskipun waktu itu sudah ada internet, tapi jangan bayangkan internetnya seperti sekarang yang cepat dan konten yang lengkap.
Hanya ada naskah berita letusan gunung tersebut, tapi tidak ada gambarnya. Agar berita besar itu tidak kering, maka dipasanglah foto gunung, tapi bukan gunung yang tengah meletus, digunakan sebagai ilustrasi. Hari pertama itu benar-benar menegangkan, karena butuh waktu lama untuk menyelesaikan halaman demi halaman. Untuk berita lain, masih bisa diperoleh dari Malang dan sekitarnya dan JPNN, sehingga tidak terlalu merepotkan. Meskipun demikian, pengerjaan tata wajah koran butuh waktu yang lama karena keterbatasan komputer. Entah jam berapa pengerjaan itu selesai, yang jelas selepas tengah malam baru selesai dan menjelang dini hari awak redaksi dan pracetak bisa pulang ke rumah.
Sebagai edisi perdana, tentu hasilnya masih jauh dari memuaskan. Tata wajah koran waktu itu dibuat mirip koran Jayakarta di Jakarta, dengan logo nama koran berada dalam kotak yang diblok warna biru. Waktu itu masih belum terpikir bagaimana membuat logo yang bagus, karena yang penting bisa terbit dulu. Rupanya koran uji coba itu sampai ke tangan Pak Dahlan yang langsung mereaksi terhadap tampilan koran yang dianggapnya tidak bagus. Menurut Dahlan, wajah Malang Post kala itu seperti koran masa lalu yang masih tradisional. Tentu saja kritik itu membuat kami harus bekerja keras untuk menciptakan koran, baik wajah maupun isinya, yang lebih baik. Setelah koran perdana terbit, awak redaksi langsung memelototi isinya satu persatu, baik berita maupun tata wajahnya. Rapat itu pun menyita waktu panjang, tapi tetap menghasilkan sesuatu untuk perubahan yang lebih baik.
Setelah beberapa hari uji coba, akhirnya diputuskan penerbitan perdana secara resmi dilakukan pada tanggal  1 Agustus 1998. Kesibukan terlihat saat malam menjelang 1 Agustus itu, karena semuanya ingin penerbitan perdana lebih baik dibanding edisi uji coba sebelumnya. Di tengah kesibukan itu datanglah  almarhum Drs Imam Kabul, yang waktu itu menjadi camat Singosari. Imam Kabul adalah sahabat para wartawan, termasuk para wartawan Malang Post. Ketika dikabari Malang Post akan terbit perdana, almarhum hadir kemudian didaulat untuk berdoa sebagai tanda dimulainya edisi perdana Malang Post. Rupanya doa almarhum didengar oleh Tuhan dan mengabulkannya sehingga koran yang pada 17 tahun lalu mulai terbit, sampai saat ini masih bertahan dan berkembang dengan baik. Almarhum bukan hanya menjadi sumber berita bagi para wartawan, tapi juga menjadi sahabat yang siap membantu bila ada kesulitan.
Selain Imam Kabul, masih banyak lagi sahabat yang memberikan bantuan baik moril maupun materiil saat awal-awal berdirinya Malang Post, seperti pimpinan ABM Bu Dahniar. Rupanya beliau iba melihat kondisi Malang Post yang tidak memiliki kelengkapan yang memadai, sehingga menyumbangkan beberapa perangkat kantornya. Juga ada direktur BTC M Taufan yang banyak membantu kelancaran tugas redaksi dengan meminjamkan komputer di tempat kursusnya untuk digunakan wartawan mengetik berita. Kala itu wartawan Malang Post kalau sore datang ke kantor BTC di ujung Jalan Pajajaran. Setelah itu kembali ke kantor untuk menyerahkan hasil ketikannya kepada redaktur di kantor.(Bersambung)