BANDUNG - Para orang tua yang memiliki anak balita di bawah usia 5 tahun harus cepat tanggap jika balitanya mengidap pneumonia. Karena pneumonia adalah pembunuh nomor 1 balita di dunia. Lalu apa tanda-tanda anak balita yang terkena pneumonia?
"Tandanya adalah terjadi peningkatan frekuensi nafas, sehingga anak tampak sesak. Pada daerah dada tampak retraksi atau tarikan dinding dada bagian bawah setiap kali nafas," ujar Subdivisi Bagian Respirologi Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung, dr Sri Sudarwati SpA, dalam peringatan Hari Pneumonia Dunia di Crown Hotel Kota Bandung, Sabtu (26/11).
dr Sri melanjutkan, tanda lainnya adalah takipneu yaitu nafas cepat. Ini merupakan tanda pneumonia yang penting. Menurutnya masyarakat harus mengenali tanda awal pneumonia ini dengan cara menghitung frekuensi nafas balita selama 1 menit.
"Batasan frekuensi nafas cepat pada bayi kurang dari 2 bulan adalah lebih/sama dengan 60 kali per menit, pada bayi 2 sampai 12 bulan adalah 50 kali per menit. Sedangkan usia 1-5 tahun adalah 40 kali per menit," terang dr Sri.
Selain karena takipneu dan retraksi, balita yang mengalami perburukan gejala ditandai dengan gelisah, tidak mau makan atau minum, kejang atau sianosis (kebiruan pada bibir) bahkan penurunan kesadaran. "Pneumonia berat seperti batuk atau sesak nafas disertai salah satu seperti retraksi dinding dada dan grunting atau merintih," jelasnya.
Jika beberapa tanda tersebut dialami oleh balita, maka harus segera mendapatkan penanganan medis. "Lakukan pemeriksaan saturasi oksigen terhadap pasien dan lakukan foto toraks jika memang memungkinkan," kata dr Sri.
dr Sri menambahkan, selama ini untuk menanggulangi pneumonia ada tiga langkah utama yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO). Yakni memberikan proteksi pada balita, melakukan pencegahan pneumonia dan tata laksana pneumonia yang tepat.
"Proteksi ditujukan untuk menyediakan lingkungan hidup yang sehat bagi balita. Apa saja itu seperti nutrisi yang cukup, ASI ekslusif sampai bayi usia 6 bulan dan udara pernafasan yang terbebas dari polusi seperti asap rokok, asap kendaraan dan asap pabrik," paparnya. Pemberian ASI eksklusif, lanjut dr Sri, dapat menurunkan kejadian pneumonia pada balita sebesar 20 persen.(dtc/lim)

Halaman 1 dari 86