Malang Post

You are here: Metro Raya

Metro Raya

Gelar Renungan Suci Hingga Ruwatan Massal

SINGOSARI - Momen peringatan  satu Muharram atau satu Suro (Suroan,red)  hari ini sekaligus banyak digunakan tokoh masyarakat hingga tokoh spiritual untuk melakukan berbagai kegiatan.  Seperti  dilakukan di Padepokan Wangon-Sumber Naga, Dusun Biru, Desa Gunungrejo, Kecamatan Singosari  Kabupaten Malang turut menggunakan momen  ini  dengan menggelar renungan suci dan beberapa acara lainnya.
“Makna dari Suroan ini adalah untuk meningkatkan ketaqwaan dan kerohanian. Makanya, pada malam menjelang bulan Suro, akan dilakukan renungan suci,” kata Ketua Padepokan Wangon-Sumber Naga, Ki Kresna Soesamto kepada Malang Post kemarin.
Ditambahkan,dengan melakukan renungan suci, maka jiwa atau hati seseorang akan menjadi mawas diri. Sehingga, dalam menghadapi kehidupan bisa yang akan datang menjadi lebih mantap. Hati seseorang bisa tajam dan kekuatan batin seseorang bisa tambah bagus.
“Sehingga seseorang  tidak mudah frustrasi, berbuat ngawur hingga mudah galau. Jadi, seseorang itu nantinya justru bisa lebih memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan memiliki nilai-nilai luhur yang harus terus dimunculkan,”  urai  budayawan yang baru berusia 23 tahun ini.
Mahasiswa Universitas Brawijaya ini memaparkan selain mengadakan renungan suci, tambah pria ramah itu, sebagai bagian dari rangkaian Suroan juga akan menggelar sarasehan dan acara sosial  pada tanggal 1 hingga 2 November mendatang. Khusus 1 November atau sarasehan, akan mengisi kegiatan dengan diskusi antar sesepuh se-Singosari untuk mencari identitas diri dari Singosari.
“Identitas diri yang dimaksud, itu seperti pakaian hingga makanan khas dari Kerajaan Singosari dulu.Selama ini, sebagian dari identitas diri tersebut memang sudah ada. Tapi, belum terungkap  sepenuhnya. Karenanya, pada momen Suroan ini akan diungkap untuk diambil suatu komitmen. Identitas diri dari Singosari inilah, yang akan menjadi salah satu bahasan yang menarik karena Singosari adalah kerajaan besar dan bisa digali dengan utuh untuk disajikan kepada wisatawan atau masyarakat,” ujarnya.
Sementara untuk acara sosial, ungkap Ki Kresna, akan melakukan dua kegiatan. Pertama, ruwatan massal yang digratiskan untuk umum. Baik itu anak-anak hingga orang dewasa. Lalu, jumasan pusaka atau pencucian pusaka peninggalan atau warisan leluhur. Dua kegiatan itu, akan digratiskan dan semata-mata untuk membantu masyarakat.
“Khusus ruwatan massal, anak-anak akan didahulukan dalam pelaksanaan itu. Peserta ruwatan, hanya diminta untuk membawa sendiri kain mori putih, jarek dan bunga setaman. Sementara untuk pencucian pusaka, disyaratkan membawa dupa dan minyak pusaka,” tambahnya seraya menambahkan sebagai puncak dari rangkaian Suroan, malamnya akan dilakukan tumpeng ambeng dan ditutup dengan acara doa bersama.   
Disinggung mengenai pencucian pusaka, Ki Kresna menjelaskan, sebenarnya yang harus disucikan itu tidak hanya pusaka peninggalan semata di bulan Suro ini. Namun, pusaka rohani atau hati dari manusia itu juga butuh disucikan. Karenanya, untuk pelaksanaan Suroan di Padepokan Wangon diawali dengan renungan suci lalu ke ruwatan dan pencucian pusaka. (sit/nug) 

Page 1 of 1801

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »