Malang Post

You are here: Metro Raya Desa Adat Klakah Dioptimalkan untuk Wisata

Desa Adat Klakah Dioptimalkan untuk Wisata

Share
PONCOKUSUMO-Menyambut tahun kunjungan wisata, potensi desa terus dimaksimalkan. Hal inilah yang terus dilakukan Kecamatan Poncokusumo, dalam mengembangkan keberadaan dua desa yang memiliki potensi khusus sebagai sasaran wisata yang sekaligus menjadi pintu masuk ke lokasi wisata Gunung Bromo. Yakni Desa Gubug Klakah dan Desa Adat Ngadas.
“Pengunjung yang ingin menikmati beberapa tradisi di Desa Adat Ngadas, bisa menjumpainya langsung saat melakukan kunjungan secara bersama-sama. Jadi, untuk melihat bagaimana beberapa upacara yang biasa dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Ngadas, tidak harus menunggu hingga waktu-waktu tertentu. Bahkan, seperti kesenian Kuda Lumping, masih sangat kental ditampilkan di lokasi tersebut,” kata Camat Poncokusumo, Eru Suprijambodo, kepada Malang Post, kemarin.
Desa yang menjadi garapan, yakni Desa Gubug Klakah. Pada desa ini, penikmat wisata bisa menikmati eloknya petik buah apel. Tidak hanya itu, kondisi alamnya yang masih natural, menjadikan wisatawan yang datang juga bisa menikmati panorama yang ada di desa ini.
Selain ditunjang dengan panoramanya yang indah, pada lokasi itu juga bisa menikmati derasnya debit air dengan arum jeram yang sudah disiapkan di sekitar lokasi. Bahkan, rest area secara khusus terus dikembangkan dalam menunjang keberadaan pintu masuk ke Gunung Bromo tersebut.
Kondisi alamnya yang sejuk dan indah, menjadi salah satu penunjang atau sisi plus menjadikan Gubug Klakah sebagai lokasi sasaran wisata. Apalagi, di desa itu juga bisa didapati keberadaan tanaman sayuran yang masih segar menghampar luas dan digarap langsung oleh petani.
Jika belum puas dengan keindahan alam atau panorama di Gubug Klakah, penikmat wisata bisa langsung ke desa paling ujung dari Kecamatan Poncokusumo. Yakni, Desa Adat Ngadas. Di desa ini Penikmat wisata bisa menikmati sisi masyarakat Tengger yang masih memegang teguh adat istiadat. Mulai Karu, Unan-unan, upacara melahirkan jabang bayi, musim panen, upacara Kasodo hingga keberadaan masyarakatnya yang jujur dan suka menjaga lingkungan desa.
Dengan jarak tempuh sekitar 35 kilometer dari Gunung Bromo, bisa dipastikan penikmat wisata akan puas dengan sajian dua desa yang menjadi optimalisasi sasaran tujuan wisata. Apalagi, pernak-pernik dari kunjungan, juga sudah disiapkan di lokasi itu. (sit)

comments

This content has been locked. You can no longer post any comment.