Malang Post

Metro Raya


Tak Tega Usir PSK Karena Tunggu Kompensasi Pemkab

Share
Pengelola wisma di lokalisasi Kalibiru, Slorok melakukan tanda tangan surat pernyataan berisi penutupan.

Alasan Pengelola Wisma Lokalisasi Kalibiru Masih Buka
MALANG –  12 pengelola wisma di lokalisasi Kalibiru, Desa Slorok, Kecamatan Kromengan  mengaku membuka kembali usaha esek-esek sejak Febuari lalu. Mereka terpaksa membuka kembali, lantaran kasihan dengan para PSK yang tidak memiliki pekerjaan, dan belum mendapatkan uang kompensasi. Pengakuan tersebut kemarin dilontarkan pengelola wisma saat menjalani pemeriksaan di ruang Bidang Pengendalian Ketentraman dan Ketertiban, Satpol PP dan Linmas Kabupaten Malang.
Menurut salah satu pengelola, sejak resmi ditutup Pemkab Malang 24 November 2014 lalu, PSK di lokalisasi Kalibiru, Slorok tidak memiliki pekerjaan. Padahal, para PSK ini juga butuh uang untuk makan, dan tidak jarang dari mereka yang memiliki keluarga. “Kami sering dapat keluhan, dari mbak-mbaknya. Kami kasihan, sehingga terpaksa membuka kembali wisma,’’ kata wanita yang mengaku bernama Rini.
Wanita yang datang menggunakan jilbab ini juga mengakui jika sebagian PSK masih tetap tinggal di wisma-wisma tempat mereka bekerja dulu. Alasan mereka adalah menunggu pencairan uang konpensasi yang dijanjikan oleh pemerintah.
“Sebagai pengelola kami tidak bisa mengusir. Sehingga membiarkan mereka tetap tinggal,’’ katanya.
Lalu berapa jumlah PSK yang masih tinggal di lokalisasi Kalibiru? Rini mengaku tidak tahu angka pastinya. Tapi dari 14 wisma rata-rata dihuni 2-4 PSK. “Kalau jumlahnya tidak tahu, tapi sekitar 30,’’ katanya.
Sementara itu Stefanus L Horsayr, Kabid Pengawasan dan Penindakan Satpol PP Kabupaten Malang mengatakan, pihaknya sengaja mengundang para pengelola wisma lokalisasi ke kantornya, untuk pemeriksaan. Pemeriksaan ini seiring dengan informasi masyarakat, jika di lokalisasi tersebut masih ada aktifitas esek-esek.
“Sebelumnya kami mendapat informasi jika di lokalisasi tersebut buka. Sehingga 12 Maret lalu kami melakukan patrol, sekaligus menyampaikan undangan kepada para pengelola untuk meminta keterangan dan klarifikasi. Undangan itu dipenuhi pengelola hari ini,’’ katanya.
Stefanus juga mengatakan, jika sebetulnya pengelola yang diundang jumlahnya 14 orang. Tapi karena dua orang sakit, baru 12 orang saja yang hadir.
Dia juga mengatakan, selain meminta klarifikasi dan pemeriksaan, para pengelola ini wajib menandatangi surat pernyataan. Surat pernyataan tersebut berisi kesediaan pengelola untuk menutup total aktifitas di wisma lokalisasi tersebut untuk selama-lamanya.
“Ini merupakan langkah awal kami untuk menegakkan Perda. Selanjutnya, kami akan melakukan tindakan tegas, dengan memberikan sanksi,’’ urainya. Tidak main-main, sanksi tegas itu diberikan kepada seluruh pengelola di enam lokalisasi lainnya. “Kami tidak memberikan toleransi. Untuk penegakannya, kami juga berkoordinasi dengan desa dan kecamatan, termasuk berkoordinasi dengan jajaran kepolisian untuk operasi,’’ tandasnya. (ira/feb)
comments

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL