Lagi-lagi kaum muslimin di dunia diperlakukan tidak manusiawi di tengah-tengah mayoritas kaum kafir di negaranya. Kali ini saudara kita para muslim Rohingya mendapatkan tindak kejahatan yang sudah di atas batas kemanusiaan. Mereka menerima kebencian dari kaum ekstrimis Buddha Myanmar.  Banyak dari muslim Rohingya yang akhirnya berbondong-bondong mencari suaka. Tetapi pada akhirnya negara-negara tetangga pun tidak bisa membantu banyak. Tindakan kaum ekstrimis Buddha yang terus meneror muslim Rohingya pun didukung oleh pemerintah Myanmar. Banyak pihak yang menuding perlakuan Myanmar terhadap kaum minoritas Rohingnya sudah termasuk genosida dan pembersihan etnis. Lebih dari seratus orang tewas dan 30.000 orang menjadi pengungsi.
Ketika dunia internasional mulai mendesak Myanmar untuk segera menyelesaikan permasalahan ini, mereka berdalih tidak melakukan tindakan penganiayaan terhadap muslim Rohingya. Bahkan orang nomor satu di Myanmar, Aung San Suu Kyi tidak bertindak apapun. Pantaskah orang seperi Suu Kyi mendapatkan nobel perdamaian tetapi ia sendiri hanya diam melihat nasib orang-orang Rohingya? Padahal sudah Nampak jelas apa yang dilakukan biksu Buddha dibantu militer terutama Ashin Wirathu, seorang biksu militan yang terus menyuarakan kebenciannya terhadap umat Islam. Myanmar walaupun telah dicap sukses mewujudkan demokrasi, nyatanya demokrasi mustahil terwujud terutama bagi rakyat minoritas seperti Rohingya.
Tokoh demokratis hanya bergeming, kaum Buddha terus memburu. Sistem demokrasi yang rusak dan merusak tidak akan berhasil mewujudkan perdamaian. Asas demokrasi hanya angan-angan belaka. Tidak ada pelindung kaum muslimin yang paling hakiki selain Khilafah yang menerapkan sistem Islam. Tidak ada kaum minoritas dan mayoritas di dalam Khilafah. Semua mendapat perlakuan yang sama sesuai syariat Islam. Hal yang mustahil terwujudkan oleh demokrasi

Safira Ma’rifatus Shalihah, Mahasiswa Universitas Brawijaya Alamat: Jl. Kertosari No.6 Ketawanggede, Lowokwaru, Malang

Halaman 1 dari 20