Malang Post

Olahraga

Mental Pemain Jadi Taruhan

Share
TENGGARONG -Mental pemain ternyata jadi perhatian serius tim pelatih Mitra Kukar, Persiba Balikpapan, dan Pusamania Borneo FC (PBFC) menyusul tertundanya kick off Indonesia Super League (ISL). Hal ini pun berimbas pada target trio Kaltim pada kompetisi tahun ini.
Sebelumnya PT Liga Indonesia selaku operator kompetisi menjadwalkan kompetisi digelar 20 Februari. Namun karena persyaratan dari Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) terkait tunggakan gaji pemain, pajak pemain, dan juga beberapa poin verifikasi lainnya, akhirnya ISL baru akan digelar 4 April mendatang.
Tarik ulur jadwal kompetisi tertinggi di Tanah Air memang bukan hal baru. Hampir setiap tahun, selalu ada saja masalah yang dihadapi. Mulai dari tunggakan gaji, verifikasi klub, hingga perubahan regulasi yang bisa membuat jadwal ISL dimundurkan.
Nah, menjadi bakal lebih berat bagi wakil Benua Etam menyusul keputusan manajemen yang ternyata sama-sama melakukan pergantian di kursi pelatih. Mulai dari Iwan Setiawan (PBFC), Stefan Hansson (Mitra Kukar), dan Liestiadi (Persiba).
Mengarungi bahtera ISL 2015, Persiba memercayakan skuad terhadap pelatih lokal Eddy Simon Badawi. Pun begitu dengan PBFC yang menyerahkan urusan taktik kepada pelatih Arcan Iurie. Sedangkan skuad Naga Mekes, sebutan Mitra Kukar memberikan mandat kepelatihan kepada pelatih asal Inggris, Scott Cooper.
Pertimbangan penunjukan pelatih biasanya berbanding lurus dengan target tim. Semakin tinggi penilaian terhadap kualitas pelatih, peringkat papan atas sudah lumrah jadi bidikan. Terkait kompetisi, Arcan Iurie dan Eddy Simon tentu sudah awam dengan jadwal liga yang kerap molor. Lantas, bagaimana dengan Cooper yang musim ini baru mengukir pengalaman perdana melatih di Indonesia?
Skuad Mitra Kukar menjalani persiapan tim sejak akhir tahun 2014. Tim yang bermarkas di Tenggarong ini, bahkan melakukan training center hingga ke Thailand selama dua pekan. Soal target, Cooper optimistis bisa merebut posisi di papan atas klasemen akhir.
Sistem kompetisi yang berbeda dari ISL 2014 dengan format dua wilayah, dianggap Cooper, liga musim ini cukup berat. Tak hanya itu, kepastian jadwal yang tidak jelas juga membuatnya sulit untuk memasang target sangat tinggi.
"Memang, baru di Indonesia saya mendapatkan sistem kompetisi yang seperti ini. Saya mengira, kompetisi di Indonesia sudah tertata rapi, tapi ternyata belum," kata Cooper saat ditemui beberapa waktu lalu.
Sebagai pelatih, Cooper memang hanya ditugaskan untuk secara maksimal mempersiapkan tim. Mulai dari menentukan formasi ideal, hingga memilah pemain untuk dipercaya sebagai pemain inti.
Sejauh ini, Cooper menjelaskan skuadnya sudah semakin kuat. Waktu persiapan yang tersisa, dimanfaatkan untuk memadukan tiga pemain asing dengan para pemain lokal.
"Penundaan liga sebenarnya sulit saya terima. Karena tim saya sudah sangat siap untuk bertanding. Saya memiliki pemain lokal yang matang di setiap posisi," ujar Cooper.
Kembali ke target, Cooper menegaskan hanya ingin menyelesaikan liga dengan finis setinggi mungkin. Dia juga menyebutkan, tentu tidak bisa menerka target secara realistis lantaran banyak ketidakpastian terkait liga. (*/abe/obi/k15/jpnn/jon)
comments
Last Updated on Saturday, 28 February 2015 12:24

Page 1 of 233

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »