Diluncurkan ! Buku Psikologi Bencana

MALANG - Indonesia adalah negara yang rawan bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial. Namun sayangnya masyarakat Indonesia banyak yang kurang menyadari pentingnya kesiapan menghadapi bencana.
Di negara lain yang rawan gempa dan tsunami seperti Jepang, Mitigasi atau kesiapan menghadapi bencana telah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.
Adanya asumsi bahwa bencana selalu berkaitan dengan suatu kejadian alam yang mengakibatkan kerugiaan, kerusakan, dan kematian menyebabkan kurang diperhatikannya bencana non-alam dan bencana sosial. Hal itu dikatakan Intan Rahmawati, S. Psi, M. Si saat meluncurkan buku yang ia tulis bersama mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang Ari Rahmawati berjudul Mengenal Psikologi Bencana yang diluncurkan kemarin (11/10).
“Asumsi ini sedikit banyak menggambarkan bencana hanyalah proses alamiah dan kurang memperhatikan faktor penyebab dari manusia sendiri. Padahal kenyataannya faktor penyebabnya bisa karena manusia dan gabungan keduanya,” ujarnya.
Dikatakan Intan, yang tak kalah penting adalah dampak psikologis akibat bencana alam maupun bencana lainnya yang harus disiapkan. “Stress dan trauma adalah akibat yang ditimbulkan akibat bencana,” dosen Psikologi UB ini.
Sementara itu, penulis lain buku ini Ari Rahmawati dalam acara kemarin menjelaskan sedikitnya literatur yang menganai Psikologi Bencana, sehingga buku ini dapat menjadi rujukan dalam Psikologi Bencana. “Buku yang membahas psikologi hanya sedikit, itu-pun dari luar negeri,” ujar perempuan yang masih mahasiswa ini.
Ari menambahkan, bencana tidak hanya bencana alam tetapi memiliki jenis yang beragam yakni bencana non-alam dan bencana sosial. “Bencana non-alam adalah wabah penyakit dan gagal teknologi. Bencana sosial yaitu konflik sosial dan korupsi,” beber Ari.
Buku yang kali pertama diluncurkan ini mendapat tanggapan positif dari audiens yang hadir, tak hanya dari mahasiswa psikologi saja yang hadir, tetapi dari berbagai bidang ilmu. “Bukunya cukup menarik karena saya baca sekilas bahasa yang digunakan cukup ringan tidak semuanya menggunakan bahasa psikologi,” ujar Putri salah satu audiens peluncuran buku. (nin/eno)