Mahasiswa Jangan Hanya Bisa Komentar Saja

MALANG - Anggota Komisi IX DPR RI Rieke Diah Pitaloka meminta mahasiswa sebagai kaum intelektual agar tidak hanya bisa mengomentari sepak terjang anggota legislatif saja. Tapi seharusnya bisa menyumbangkan pemikiran yang baik agar wakil rakyat bisa menjalankan tugasnya dengan benar.
”Saya tidak setuju memang kalau ada artis yang menjadi anggota DPR dengan alasan ingin belajar politik, kalau mau belajar ya di UB (Universitas Brawijaya Malang) saja,” ucapnya ketika menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Efektifitas Representasi Politik Dalam Sistem Legislasi Nasional: Mempertanyakan Peran DPR RI dalam Isu Pelayanan Dasar Rakyat" di gedung FISIP UB lantai 7, Rabu (17/10).
Pemeran Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri ini mengaku dirinya sendiri berada di panggung politik dengan perjuangan berat. Bahkan saat pemilihan ia sedang dalam kondisi hamil besar.
”Terus terang saja waktu pelantikan saya deg degan, dari istri tukang bajaj bisa jadi anggota DPR,” guraunya.
Karena itu ia ingin keberadaannya sebagai aktor politik bisa memberi sumbangan bagi masyarakat. Salah satu yang bisa dibanggakannya adalah keberhasilan DPR RI menggolkan undang undang baru yaitu UU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
”Memperjuangkan hak rakyat memang tidak mudah, tapi UU BPJS ini adalah dorongan semangat dari para wakil rakyat agar jangan sampai rakyat ditolak di Rumah Sakit karena miskin,” kata dia.
Dengan gaya bicaranya yang seperti berorasi, alumnus S2 Filsafat Politik UI itu mengajak mahasiswa untuk berani berkancah di bidang politik.
"Bagi kalian kaum perempuan saatnya sekarang perempuan untuk maju di kancah politik. Woman in Politics. Tidak ada peraturan yang mengatakan perempuan tidak boleh menjadi pemimpin," kata Rieke.
Dalam acara tersebut, Rieke juga mengatakan saat ini pandangan negatif terhadap politik disebabkan politik banyak direduksi menjadi sesuatu yang tidak meletakkan rakyat pada hak-haknya, padahal sejatinya politik merupakan sebuah seni mengabdikan diri demi kepentingan masyarakat.
"Ketika politik digunakan untuk menghalalkan segala cara, maka itu disebut politik porno. Berarti ini bukan politik yang merupakan seni mengabdikan diri pada negara,"katanya.
Politisi PDI-P tersebut juga mengatakan bahwa politik juga merupakan sebuah cara untuk meraih kekuasaan. Sehingga dalam mewujudkannya diperlukan partai politik. (oci/eno)