Kelas 1-3 SD Fokus Calistung dan Pendidikan Karakter

MALANG - Rencana kebijakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang konsentrasi baca, tulis dan hitung (Calistung) serta pendidikan karakter bagi murid SD kelas 1, 2, dan 3 sedang dalam proses. Hal ini dikatakan Prof. Dr. Ibrahim Bafadal Direktur Pembinaan TK dan SD Kemendikbud saat ditemui di sela-sela penutupan seminar nasional Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Batu kemarin (17/10).
“Masih belum final, masih dalam tahap proses,” ujar Ibrahim. Pria ramah ini mengatakan  wacana tersebut adalah untuk menata kembali kurikulum SD untuk kelas 1, 2, dan 3. “Kurikulum yang sudah dilaksanakan saat ini tidak diubah, artinya hanya ditata kembali sesuai dengan kebutuhan,” kata pria ramah ini kepada Malang Post.
Jika kebijakan ini benar-benar dilaksanakan, nantinya pelajaran IPA dan IPS akan melebur bersama pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan Matematika. Bukan hanya itu, Kemendikbud juga memfokuskan pelajaran tingkat dasar ini pada pendidikan karakter.
Draft naskah kerangka dasar kurikulum itu menitikberatkan pada empat mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Matematika dan Pendidikan Agama. Pertimbangan memilih empat mata pelajaran itu adalah karena tim evaluasi Kemendikbud menilai, empat mata pelajaran tersebut mampu menjadi perekat bangsa.
 “Calistung ini akan menjadi simbol bahasa. Bukan berarti IPA dan IPS akan dihilangkan dari kurikulum, tetapi akan dilebur,” tegas pria yang juga dosen administrasi pendidikan UM ini. Dikatakannya, nantinya pendidikan di tingkat dasar ini akan menitikberatkan pada penanaman pendidikan karakter dan religi. 
Kurikulum pendidikan yang baru akan mulai diuji publik sebelum Februari tahun depan, dan akan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
Enam mata pelajaran yang akan diberikan pada siswa kelas 1 hingga 3 SD ini adalah Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Dari enam matapelajaran tersebut tidak ada Bahasa Inggris yang selama sudah diterapkan di SD.
Jika sudah disahkan, aturan ini harus diikuti oleh semua sekolah. Namun, jika ada sekolah yang menjadikan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran tambahan, itu merupakan persoalan lain dan akan dipertimbangkan lagi. “Harapannya dengan evaluasi yang kami lakukan secara berkesinambungan ini akan berdampak pada kualitas siswa,” pungkasnya.(nin/eno)