Kekayaan Khas Malang Mulai Dilupakan Sastrawan

MALANG – Road show Temu Sastra Indonesia 2012 digelar di aula Perpustakaan Kota Malang Sabtu (20/10) lalu. Dihadiri sejumlah pembicara dari akademisi serta pegiat sastra nasional hingga lokal, temu sastra bertema Estetika Lokal dan Peran Negara Dalam Kesusasteraan tersebut berusaha menggali kekayaan sastra lokal Malang dan memberikan rekomendasi soal peran negara untuk kesusasteraan dan seniman.
Salah satu pembicara yang juga akademisi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang Yusri Fajar menyebut, banyak budaya lokal Malang yang bisa digali dan menjadi inspirasi kekayaan karya sastra khas Indonesia. “ Sastrawan cenderung memilih tema dan warna nasional serta melupakan kekayaan khas Malang seperti bahasa walikan misalnya. Sementara sastra nasional sendiri sering terdistorsi oleh pemikiran dan ide sastrawan dunia,” paparnya.
Sementara peran negara dalam kesusasteraan di Indonesia digambarkan dengan singkat oleh Djoko Saryono, akademisi dari Universitas Negeri Malang (UM). Menurutnya, peran negara dalam kesusateraan dan budaya di Indonesia sempat berada pada masa kelam ketika negara menutup Lekra karena perbedaan ideologi dengan pemerintah.
Sementara peran pemerintah di negara lain untuk kesusasteraan lebih nyata seperti dana riset untuk kesasteraan hingga pembelian kolom di media lokal demi memberikan ruang ekspresi bagi seniman lokal.
Ketua Panitia Temu Sastra Indonesia 2012 Chavchay Syaifullah menyebut hasil pembicaraan di Malang ini akan dijadikan bahan rekomendasi dengan hasil pertemuan di beberapa kota lain, seperti Lebak, Padang, Banjarmasin, Palu, Kupang dan terakhir di Jakarta.
“Selama ini pemerintah belum memiliki peran yang jelas dalam perkembangan budaya kesusasteraan. Satu poin dari Malang adalah dengan keterlibatan Pemda setempat untuk menyediakan space di media lokal sebagai tempat kesusateraan dari seniman lokal berkembang, seperti puisi, opini ataupun novel,” ujarnya.
Temu sastra Indonesia juga dimaksudkan untuk mengumpulkan dan menggali kekayaan sastra lokal karena sastra nasional kini dianggap tak lagi sesuai dengan tuntutan jaman dan banyak terkontaminasi sastrawan dunia.
“Chairil Anwar atau ST Alisjhabana adalah sastrawan yang banyak terpengaruh sastrawan dunia, sebuah budaya sastra yang kini sudah mulai runtuh. Sementara kita punya berbagai karya sastra indah dari entitas lokal yang terabaikan dan tidak tergali. Ini yang akan kita kumpulkan dan digunakan untyuk memperkaya identitas bangsa dan sastra kita,” tandasnya. (pit/eno)