Pembelajaran Jarak Jauh Sepi Peminat

MALANG - Meski sudah diprogramkan sejak 2001 lalu, namun program distance learning atau pembelajaran jarak jauh di Universitas Brawijaya (UB) kurang diminati mahasiswa. Padahal UB sudah bergabung menjadi anggota resmi Asian Internet Interconnection Initiatives (AI3) bersama sejumlah negara lainnya.
“Menarik minat mahasiswa saja susah, sebab mahasiswa kita masih mencari nilai bukan ilmu,” ungkap Kepala UPT TI UB, Raden Arief Setyawan, ST.,MT di sela acara joint meeting dengan Asian Internet Interconnection Initiatives (AI3) dan School On Internet (SOI) Asia di Rektorat UB kemarin.
Menurutnya selama ini pembelajaran jarak jauh relatif sepi peminat, baik dosen maupun mahasiswa. Sebab memang belum semua dosen mengagendakan kuliah jarak jauh ini sebagai mata kuliah yang wajib ditempuh mahasiswa.
”Baru ada beberapa dosen saja yang memasukkan kegiatan distance learning dalam satuan kredit semester (SKS),” ujarnya.
Padahal menurutnya, distance learning ini dipandu langsung oleh bapak internet Jepang, Jon Murray dan pesertanya akan mendapatkan sertifikat jika sudah mengikutinya.
Selain itu kendala lainnya adalah perbedaan waktu antara Indonesia dan Jepang sebagai pembicaranya. Terkadang saat Indonesia sudah memulai tahun ajaran baru ternyata di Jepang mulai masa liburan.
”Jika kita mengadakan pembelajaran jarak jauh melalui teleconference, seringkali terjadi perbedaan waktu belajar antara satu negara dengan negara lain. Seperti pada saat kita ingin mengadakan pembelajaran jarak jauh pukul 16.00, tapi di Jepang sudah pukul 18.00," katanya.
Sementara itu, Ketua Unit Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) UB DR. Ir. Harry S. Dahlan, MS mengatakan tujuan dari distance learning adalah untuk mencari jalan keluar terhadap kebutuhan pendidikan masyarakat Indonesia di perguruan tinggi yang masih sangat sedikit.
Pemateri yang juga menjabat sebagai dosen Teknik Elektro FT UB tersebut mengatakan bahwa peraturan tentang Pendidikan Jarak Jauh (PJJ)sudah ada dalam UU Pendidikan Tinggi Nomer 12 Tahun 2012.  Dalam peraturan tersebut PJJ bertujuan untuk memberikan layanan Pendidikan Tinggi kepada kelompok Masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler dan memperluas akses serta mempermudah layanan Pendidikan Tinggi dalam Pendidikan dan pembelajaran.(oci/eno)