Bisa Membaca Tapi Tidak Gemar Membaca

MALANG- Banyak anak-anak sejak usia dini sudah dikenalkan membaca, bahkan banyak yang sudah bisa membaca. Namun, kemampuan membaca ini tidak diimbangi dengan minat baca. Dari data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 menunjukkan prosentase anak yang gemar membaca sebesar 18, 94 persen, sedangkan minat terhadap televisi mencapai 90,27
persen.
Hal itu diungkapkan Sarah Prasasti, M.Hum, pemilik sanggar Ayo Membaca kepada Malang Post kemarin. ”Anak zaman sekarang lebih cepat mengenal huruf dan membaca. Namun tidak berbanding lurus dengan kegemaran membaca. Bahkan diperparah lagi, mereka mampu membaca tapi tidak memahami kata dan kalimat yang dibaca,” beber alumni American Studies Universitas Gajah Mada (UGM) ini.
Menurutnya, kebanyakan anak usia dini yang bisa membaca adalah hanya sekedar bisa. Jika membaca kata benda, mereka banyak yang tidak mengerti wujud bendanya. Begitu pula dengan kata kerja, anak terkadang belum memahami kata kerja yang dimaksud.
Mengenalkan membaca bagi anak usia dini sebenarnya boleh dilakukan, asalkan tidak menekan anak untuk bisa membaca. Karena anak usia dini berusia 3-6 hanya boleh dikenalkan huruf melalui metode bermain.
”Mengenalkan huruf bisa dilakukan dengan permainan, bukan dengan media papan tulis yang banyak dilakukan. Hal tersebut akan membuat anak jenuh ketika memasuki masa sekolah dasar,” kata mantan dosen Universitas Petra Surabaya ini.
Menurut Sarah, orangtua bisa mengenalkan huruf melalui cerita bergambar. Namun, anak tidak hanya dibacakan cerita tetapi diajarkan alur membaca dari kiri ke kanan. ”Huruf yang dipakai adalah huruf Romawi, ketika membacakan cerita anak juga dikenalkan cara membaca yang benar. Kelihatannya sangat simpel, tetapi justru dari situ awal mengenalkan membaca,” kata perempuan ramah ini.(nin/eno)