Kurang Inovatif, Pelajaran Sastra Membosankan

MALANG - Belajar sastra identik dengan bahasa yang berat dan sulit dipahami bagi sebagian orang. Tak heran bila kadang terasa membosankan jika benar-benar tidak berminat pada sastra. Padahal jika guru semakin inovatif dalam mengajar sastra, sastra pasti akan lebih disenangi banyak kalangan. Hal ini dikatakan Dr. Roekhan, M.Pd dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM).
“Sebenarnya sejak usia dini, anak sudah dekat dengan sastra seperti dongeng dan cerita fabel. Hanya saja di tingkat SMP dan SMA banyak guru yang memberi kesan bahwa sastra sulit dipahami,” kata Roekhan.
Dikatakannya, dari segi kurikulum, pembelajaran sastra sudah terintregasi dalam setiap kompetensi dasar. Tetapi kenyataannya, banyak guru yang tidak menguasai sehingga berdampak pada pembelajaran. “Belajar sastra bisa melalui apresiasi sastra dan melalui pengalaman yang diarahkan pada penugasan yang baik dan benar,” kata pria ramah ini.
Dalam memberikan materi, guru bisa memilih bahan pembelajaran yang ringan dan mudah dipahami. Siswa juga bisa diajak berimajinasi dalam membuat karya sastra yang menarik. Untuk menemukan inspirasi, siswa bisa diajak dalam suasana yang hening dan membayangkan sesuatu. Selanjutnya siswa bisa dibimbing sesuai imajinasi yang ada di dalam pikirannya.
“Sebaiknya disesuaikan dengan usia, saat ini banyak buku sastra yang dikemas menarik. Hal ini bisa dijadikan bahan, siswa akan antusias belajar sastra,” tuturnya. Roekhan mencontohkan novel Harry Potter yang mudah diterima oleh siswa.
“Guru harus jeli memilih bahan yang bisa dijadikan media pembelajaran, kalau medianya itu-itu saja tentunya anak akan bosan dan enggan belajar sastra,” pungkasnya.(nin/eno)