SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi)/

MALANG - Peningkatan kualitas terus dilakukan oleh SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi). Selain melalui kegiatan akademis, peningkatan kualitas juga dilakukan dalam kegiatan non-akademis, termasuk perayaan Idul Adha kemarin. Dalam perayaan hari raya kurban, para siswa dan guru tidak hanya mendapat pembelajaran spiritual, tetapi juga sosial.
"Pembelajaran secara spiritual pada perayaan Idul Qurban sudah jelas dan tidak dapat disanggah lagi. Namun kami juga memetik hikmah lainnya dengan cara menggelar salat id berjamaah di halaman sekolah serta pemotongan hewan kurban. Kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran sosial karena melibatkan kerjasama dari seluruh warga sekolah, baik itu siswa, guru maupun karyawan," terang Kepala SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi), Drs H Mardjono MSi pada Malang Post.
Kegiatan pemotongan hewan kurban di sekolah yang bakal mengaplikasikan pendidikan bilingual ini sudah dilakukan sejak tahun 2010. Menariknya, hampir setiap tahun jumlah hewan kurban yang diperoleh mengalami peningkatan. Tahun ini SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi) mampu mengumpulkan dua ekor sapi dan empat ekor kambing yang didapat dari sumbangan seluruh warga sekolah dan donatur lainnya.
SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi) sendiri terus melakukan peningkatan kualitas di segala bidang yang melibatkan siswa, guru dan karyawan. Berbagai inovasi terus dilakukan, di antaranya dengan menerapkan full day school. Mardjono mengatakan sistem full day school sangat tepat karena para siswa bisa fokus belajar.
"Selama kegiatan belajar, para siswa tidak hanya dibekali dengan pendidikan akademis, tetapi juga agama dan ekskul. Pagi hari, kegiatan sekolah dimulai dengan Bimbingan Mental Spiritual Siswa Sekolah Inovasi (BIMENSSI), setelah itu dilanjutkan dengan sekolah seperti biasa hingga siang hari. Sorenya, dilaksanakan kegiatan ekskul," sambungnya.
Kegiatan full day school ini tidak hanya diikuti oleh siswa reguler tetapi juga siswa ABK mengingat SMP Muhammadiyah 2 Malang (Inovasi) merupakan sekolah inklusif. Bedanya, jadwal kegiatan ekskul bagi siswa reguler diganti dengan kegiatan kelas khusus bagi siswa ABK.
"Model pendidikan inklusif sudah masuk pada tahun ke-2 dan kami melakukannya bekerjasama dengan Fakultas Psikologi UMM. Dengan model pendidikan ini, ABK diharapkan lebih siap untuk hidup bermasyarakat karena di sekolah merupakan miniatur masyarakat," ujar mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Malang ini.
Sementara itu, untuk mempercepat pelaksanaan aplikasi sekolah bilingual, saat ini SMP Muhammadiyah 2 Malang membuka english course. Pada angkatan pertama, siswa yang masuk dalam kursus ini merupakan pemegang peringkat 10 besar di sekolah. Memasuki angkatan kedua, banyak siswa lain yang tertarik untuk bergabung. Kegiatan ini sendiri dipandu oleh guru-guru terpilih.(nda/eno)