Sasindo UM Gelar Bulan Bahasa Sastra

MALANG - Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat Bahasa Indonesia sebaga bahasa nasional, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Bulan Bahasa Sastra 2012. Berbagai agenda kegiatan digelar untuk memeriahkan kegiatan tahunan itu.
“Selain menggelar berbagai kompetisi untuk siswa SMP dan SMA, kami juga menggelar seminar yang diperuntukkan untuk guru dan masyarakat umum,” ujar Helmi Wicaksono, Ketua Himpunan Mahasiswa (HMJ) Sasindo UM, kemarin.
Seminar yang digelar Kamis (25/10) lalu itu menghadirkan Peneliti Badan Bahasa dan Mantan Ketua Pusat Bahasa, Dr. Dendy Sugono mengambil tema Pendidikan Karakter Melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia.
Dalam seminarnya Dendy menjelaskan, bahasa Indonesia sudah mulai terkikis oleh perubahan gaya hidup serta ruang interaksi sosial pada masyarakat. Saat ini bahasa asing terutama bahasa Inggris telah masuk bahkan hinggal hal-hal terkecil pada kehidupan seseorang.
Selain seminar, perlombaan menarik lainnya adalah lomba Video Dokumenter dan Analisis tentang Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia. Dalam lomba yang diikuti oleh mahasiswa Sasindo itu, banyak permasalahan yang dikritisi, antara lain penggunaan kata keterangan tempat dan kata kerja. Selain itu juga penggunaan bahasa baku yang dalam aplikasinya masih banyak kesalahan.
“Tujuan kami mengadakan lomba video dokumenter adalah mengajak teman-teman untuk mengkritisi penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Meski Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, tetapi masih banyak kesalahan yang terjadi,” beber Helmi kepada Malang Post.
Peserta lomba tidak hanya mempresentasikan videonya di hadapan para juri tetapi juga mempresentasikan makalahnya. Dalam video berdurasi maksimal 20 menit itu peserta lomba mengemas Bahasa Indonesia dalam video pembelajaran yang menarik. Mahasiswa membuat video pembelajaran se-kreatif mungkin, baik dalam tema video maupun penyampian visualnya.
HMJ Sasindo juga menggelar festival teater tingkat SMP/ sederajat dan SMA/ sederajat se-Jawa Timur. Festival ini disambut antusias para peserta. Festival teater masih menjadi ajang eksistensi ekstrakurikuler teater di banyak sekolah di Jawa Timur. Bahkan, panitia sempat menolak peserta lomba karena keterbatasan waktu.
“Harapannya, dengan berbagai keguatan ini dapat meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terutama pelajar dan mahasiswa. Selain itu juga menambah wawasan mengenai Bahasa Indonesia melalui berbagai perlombaan yang mendidikm” katanya. Puncak acara akan digelar 2 Nopember mendatang dengan upacara penutupan dan pembagian hadiah.(nin/sir/eno)