UB Buka Magister Kemiskinan

MALANG - Universitas Brawijaya (UB) mendapat amanah dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur (Jatim) untuk membuka program studi magister kajian kemiskinan.
Kurikulum program S2 ini kemarin dimatangkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB di Hotel Regent’s Park Kota Malang. Menurut rencana, program tersebut akan dibuka pada semester genap mendatang.
‘’Program ini adalah ide dari gubernur Jatim (Soekarwo,red), tujuannya untuk bisa memerkecil kemiskinan melalui konsep ilmiah,’’ ungkap Dekan FISIP UB, Prof. Dr. Ir. H. Darsono Wisadirana, MS kepada Malang Post.
Untuk tahap awal, pemprov akan mengirimkan pegawainya untuk studi dengan beasiswa. Meski demikian UB tidak menutup pintu bagi masyarakat umum yang ingin memerdalam ilmu tentang kemiskinan ini.
‘’Belum ada perguruan tinggi yang membuka pusat studi ini, dan UB menjadi pelopornya,’’ kata dia.
Ketua Bapemas Propinsi Jatim, Drs. Zakarsi M.Si dalam sambutannya mengungkapkan sebagai mana amanat UUD 1945, merupakan tanggung jawab dan komitmen negara dan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan. Pemprov Jatim memiliki program penanggulangan kemiskinan yang juga merupakan salah satu dari strategi pembangunan Jatim dan mampu menekan angka kemiskinan dengan sangat signifikan.
Menurutnya setiap tahun angka kemiskinan di Jatim menurun. Pada tahun 2010 angka kemiskinan sebesar 15,20 persen turun menjadi 14,23 persen di tahun 2011 dan sampai pada tahun 2012 turun hingga sebesar 13,40 persen.
Penurunan angka kemiskinan di Provinsi Jatim memberikan kontribusi yang signifikan pada penurunan angka kemiskinan secara nasional.
‘’Diharapkan dengan adanya program yang mengaji tentang kemiskinan, nantinya tercipta cendikiawan yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap penanggulangan masalah kemiskinan,’’ tegasnya.
Kajian-kajian penanggulangan  kemiskinan diharapkan juga mampu membuat para akademisi untuk menyusun, merencanakan, mengemplementasikan ilmu dan pengetahuaannya untuk penanggulangan masalah kemiskinan.
Rektor UB, Prof Dr Ir Yogi Sugito menegaskan, pertambahan penduduk merupakan salah satu akar dari permasalahan kemiskinan. Kalau program Keluarga Berencana tidak berjalan, penduduk bertambah, dan lapangan pekerjaan tidak ada maka kemiskinan berat untuk dihilangkan.
Tingkat pendidikan yang rendah juga merupakan salah satu penyumbang meningkatnya angka kemiskinan. oleh karena itu pemuda Indonesia harus memiliki kreatif dam inovatif.
‘’Kita bangsa yang tidak produktif tetapi konsumtif. Oleh karena itu kita harus meningkatkan etos kerja kita, saya berharap Jatim bisa menjadi pelopor dalam kajian-kajian kemiskinan,’’ ucapnya.
Sementara itu dalam lokakarya kemarin hadir sejumlah pemateri diantaranya Ketua Dewan Riset Daerah Provinsi Daerah, Prof. Dr. Hotman M. Siahaan yang mengupas tema Penanggulangan Kemiskinan Berparadigma Ganda,  Ahmad Erani Yustika dengan  tema Pendekatan dan Dinamika Kemiskinan di Indonesia, Dosen UM Waras Kamdi yang membedah inti mata kuliah, dan Widjajanti Isdijoso (lembaga Penelitian SMERU) dengan tema Praktek Penelitian (dan advokasi) Isu-Isu Kemiskinan di Indonesia. (oci/avi)