Orang Tua Harus Mau Melek Media

MALANG - Tim pengabdian masyarakat jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membentuk Simpul Media Literacy (Melek Media). Setelah tahun lalu berhasil menggandeng Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Batu sebagai mitra pengawasan media, kali ini tim yang terdiri dari dosen Komunikasi, Nasrullah dan Novin Farid Styo Wibowo menggandeng orang tua wali dan guru TK ‘Aisyiyah 33 Malang.
Deklarasi berlangsung pekan lalu di TK Aisyiyah 33 Perum Griya Shanta, Malang. Sepuluh dari sekitar 60 peserta workshop media literacy menandatangani naskah deklarasi yang berisi tiga poin. Pertama, orang tua dan guru sepakat memperkuat jalinan kerjasama untuk memberi edukasi kepada keluarga tentang pentingnya memanfaatkan media massa secara sehat. Kedua, menjadi kelompok masyarakat yang ikut secara aktif mengkritisi media massa jika merugikan masyarakat. Dan, ketiga, turut serta dalam gerakan melek media (media literacy movement) untuk menjaga generasi mendatang yang lebih baik.
“Efek media bisa merusak generasi muda saat ini. Mungkin efeknya belum terasa ketika masih anak-anak, tetapi lima atau sepuluh tahun ke depan, ketika keadaan sudah berubah, efek itu baru terasa,” kata Nasrullah yang memberi materi tentang media lietarcy.
Dia mengungkapkan data tentang perilaku generasi muda yang sudah melakukan perbuatan layaknya orang dewasa akibat pengaruh media massa. Remaja sekarang, katanya, mengalami pendewasaan dini.
Novin menambahkan, peran orang tua dan guru sekolah TK sangat strategis. Anak-anak yang masih kecil masih relatif bisa diajak  menjadwal diri untuk memilih tayangan televisi yang layak buatnya. Jika sudah menginjak masa ABG, mengatur mereka akan semakin sulit.
“Tayangan televisi itu bagaikan udara, ada yang bersih ada yang berpolusi. Kita kadang tidak tahu telah menghirup udara yang mana. Pilihannya adalah terus bernafas atau mati pelan-pelan akibat polusi itu,” kata Novin.
Tim UMM pun memberi beberapa tips agar anak-anak tetap bisa menikmati hiburan tetapi masih bisa aman dari bahaya media massa. Antara lain, orang tua mencermati acara yang boleh dan tidak boleh ditonton, orang tua mengurangi jam menonton, mendampingi anak menonton.
“Yang paling bagus kita harus memperbanyak kegiatan bersama dengan anak-anak di luar acara menonton televisi. Misalnya solat berjamaah, mengaji bersama, bercocok tanam di sekitar rumah, olah raga bersama,” kata Nasrullah.
Kepala TK ‘Aisyiyah 33, Ari Sofie, menyambut baik program tersebut. Pihaknya akan menanamkan pendidikan mengenai media ini melalui pelajaran di sekolah.
Setelah di TK ‘Aisyiyah 33, rencananya tim UMM akan mengadakan kegiatan serupa di TK ‘Aisyiyah 16 Malang. UMM menggandeng Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Lowokwaru untuk kegiatan ini. Kegiatan ini akan di-follow up dengan pembuatan grup Facebook, gathering dan diskusi-diskusi pakar. Kelompok simpul juga diberikan informasi mengenai akses kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).(oci/eno)