Guru dan Terapis ABK Tidak Kompeten

MALANG- Meningkatnya jumlah lembaga pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) disikapi oleh anggota Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI). Karena saat ini banyak lembaga pendidikan ABK yang memiliki guru dan terapis yang kurang berkompeten. "Jumlahnya semakin meningkat, tetapi yang harus dicermati adalah sumber daya guru maupun terapis," ujar Prof. Dr. M. Efendi, M. Pd, M. Kes anggota APPKhI Malang.
Ia menambahkan, meningkatnya kebutuhan akan pendidikan anak berkebutuhan khusus membuka peluang bagi masyarakat untuk membuka lembaga pendidikan ABK. Namun sayangnya, masih banyak SDM yang belum memiliki kompetensi yang sesuai. Masyarakat semakin banyak yang menyadari pentingnya pendidikan ABK, sehingga banyak yang membuka lembaga pendidikan ABK.
"Idealnya, guru atau terapisnya dari jurusan yang sesuai," ujar Efendi kepada Malang Post. Pria yang juga dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Malang (UM) menuturkan APPKhI berencana akan melakukan aturan untuk mengatur tenaga pendidik ABK.
"Nantinya SDMnya harus memiliki lisensi. Karena selama ini kami melihat banyak yang menjadi terapis dan guru hanya mengikuti pelatihan singkat. Padahal untuk membina ABK perlu keahlian khusus," katanya.Dikatakannya membina ABK juga harus memiliki dasar-dasar ilmu kedokteran. Karena ilmu kedokteran dasar erat kaitannya dengan kondisi ABK.
Meskipun APPKhI akan membuat aturan yang jelas, namun aturan tersebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat. "Kalau tahun ini belum memungkinkan. Karena banyak aspek yang menjadi pertimbangannya. Biar masyarakat yang memilih lembaga mana yang benar-benar memiliki SDM yang berkompeten. Karena masyarakat juga bisa menilai mana yang sesuai dan mana yang belum," bebernya.
Ia berharap dengan aturan yang jelas mengenai SDM guru dan terapis ABK akan berdampak pada kualitas layanan yang diberikan lembaga. "Biaya yang dikeluarkan untuk sekolah maupun terapi ABK relatif mahal, masyarakat haru mendapatkan layanan yang sebanding. Salah satunya dengan mendapatkan pelayanan dari guru dan terapis yang memang ahlinya," pungkasnya. (nin/eno)