Nanoteknologi Jadi Anak Tiri di Indonesia

MALANG- Nanoteknologi belum banyak dikenal di Indonesia. Padahal teknologi nanometer, atau sepersemilyar meter ini telah banyak dikembangkan di banyak negara. Hal ini seperti yang disampaikan oleh, Radyum Ikono B. Eng, M. Eng, Peneliti Nanotech Indonesia, saat mengisi Seminar Nasional Nanoteknologi dan Konferensi Nano Club Se-Indonesia, Sabtu (3/11) lalu.
”Negara-negara lain telah mengalokasikan triliunan untuk meneliti nanoteknologi, sayangnya di Indonesia belum banyak yang meneliti. Bahkan bisa dikatakan belum banyak yang tahu apa nanoteknologi,” kata Radyum.
Teknologi canggih yang mulai populer pada beberapa tahun terakhir ini benar-benar merupakan teknologi mungil. Mungil karena melibatkan rekayasa partikel-partikel berukuran superkecil, yang kemudian sering disebut dengan istilah "nano". Istilah ini berasal dari kata Nanos (bahasa Yunani) yang berarti satu per satu miliar.
”Saat ini banyak negara yang mengembangkan nanoteknologi. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Kanada sudah mengembangkan. Beberapa negara Asia, seperti Singapura, Cina, dan Korea Selatan juga tak mau kalah mengembangkan nanoteknologi,” beber Direktur Research and Development Nanotech Indonesia ini.
Nanoteknologi akan merambah ke banyak bidang seperti kesehatan, pangan, lingkungan, ekonomi, komunikasi, industri, elektronika, manufaktur, informatika, transportasi, dan bidang lainnya.
”Kami ingin mengenalkan nanoteknologi kepada mahasiswa dan masyarakat. Karena banyak yang belum mengenal,” kata Langgeng Setyono, Ketua Panitia. Ia berharap dengan menggelar seminar dan konfrensi nanoteknologi mendorong yang ingin melakukan riset nanoteknologi.
Selain menghadirkan Radyum Ikono, kegiatan yang digelar oleh Riset dan Karya Ilmiah Mahasiswa (RKIM) UB juga menghadirkan  Prof Sutiman B Sumitro SU, DSc, penemu nano filter pada rokok.(nin/nda)