Arahkan Penelitian pada Penggunaan Energi Alternatif

MALANG-Energi merupakan salah satu aspek yang dinilai cukup penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih bagi Indonesia yang memiliki sumber energi yang cukup banyak. Namun rupanya, ketersediaan energi yang cukup banyak itu tidak diimbangi dengan pengelolaan yang bagus. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pemateri, Prof I.N.G Wardana dalam seminar ’Economic Politik: Kedaulatan Energi  Awal Keterpurukan?’ yang digelar di aula Gedung E FEB UB, kemarin (4/11).
Dalam paparannya, Wardana mengungkapkan salah satu hal yang menjadi kendala dalam pengembangan energi di Indonesia, adalah sumber daya manusia yang dianggap belum berkompeten dalam mengelola kekayaan energi.
”Sumber daya manusia kita bukannya tidak berkualitas, namun masih harus ditingkatkan. Kebiasaan kita hanya mengolah energi contohnya minyak bumi untuk menjadi bahan mentah, kemudian Indonesia mengimpor bahan jadi,” terangnya.
Padahal, menurut guru besar di bidang energi jurusan Teknik Mesin FT UB ini, energi memiliki pengaruh yang cukup besar. Bahkan, energi juga memiliki peran kunci dalam masalah sosial, ekonomi dan politik. Kesenjangan antara permintaan dan ketersediaan energi memicu goncangan-goncangan sosial politik. Dia mencontohkan beberapa goncangan yang diakibatkan oleh energi adalah Perang Irak pada tahun 2005.
”Maka dari itu untuk saat ini penelitian lebih diarahkan pada penggunaan energi alternatif. Seperti penggunaan bahan bakar nabati untuk teknologi tinggi pada pesawat terbang komersil seperti Virginia Atlantic dan British Airways,” imbuhnya.
Masih menurut Wardana, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh akses ke sumber-sumber energi. Indonesia memiliki sumber energi yang sangat banyak, oleh karena itu pertumbuhan ekonomi masih sangat tinggi, namun masih terdapat kekacauan gerak di jalan raya dan keruwetan sosial yang sering terjadi.
”Hal ini terjadi karena sangat banyak alat transportasi yang ada di jalan, terutama sepeda motor. Jumlah sepeda motor di Indonesia sangat banyak bahkan bisa dikatakan terbanyak di dunia. Jika jalan raya dapat ditata dengan baik serta laju kendaraan dapat dikelola dengan baik, saya yakin Indonesia menjadi negara dengan ekonomi yang cukup kuat di dunia,” katanya optimis.
Sementara itu, pemateri lain dalam seminar yang didukung oleh Malang Post ini, Prof Munawar mengungkapkan, pengelolaan energi di Indonesia antara ketentuan dalam UU, terutama UU tentang energi yang terdapat dalam pasal 33 ayat 2, yang menyebutkan Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu.
”Contohnya saja Chevron, dia menguasai sekitar 43 persen penjualan di pasar pasifik. Namun Pertamina hanya sekitar 13 persen saja. Dari situ bisa dilihat apakah praktek dalam pengelolaan sudah mengacu dalam UU pasal 33 ayat 2,” bebernya.
Guru besar FEB UB ini berharap pemerintah lebih tegas dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Termasuk di dalamnya mengambil keputusan untuk menasionalisasi beberapa aset sumber energi yang dianggap potensial.
”Contohnya seperti Hugo Chavez, Presiden Venezuela berani ambil keputusan untuk nasionalisasi, baik pihak pengelola dan pemerintah sama-sama mendapatkan untung,” terangnya.
Sementara itu, ketua pelaksana kegiatan, Estu Unggul Drajat mengungkapkan, seminar kali ini dihadiri oleh sekitar 107 peserta. Kegiatan kali ini merupakan tahap awal dan akan digelar tahap lanjutan dengan dihadiri oleh mahasiswa dari seluruh Indonesia pada 10 November mendatang.
”Harapannya dengan digelar seminar seperti ini, mahasiswa semakin kritis, berani dan bijaksana dalam menyikapi persoalan yang terjadi dalam negara,” tutupnya. (ayu/nda)