Foto Masa Lalu, Dokumen Bernilai Sejarah

MALANG – Daya tarik fotografi masih cukup menggoda, terutama di kalangan muda. Terbukti banyak pihak yang menggelar acara bertemakan fotografi, mulai dari lomba hingga talkshow.
Seperti yang digelar kemarin (4/11) oleh Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota (PWK) UB, talkshow bertajuk Romansa Sejarah Malang Nominor dalam Lensa. Kegiatan yang didukung Malang Post tersebut kebanyakan dihadiri oleh mahasiswa yang memiliki minat tinggi terhadap dunia fotografi.
Salah satu pembicara dalam talkshow, Drs Ismail Luthfi, yang merupakan Senior Archeologist mengatakan dalam pandangan sejarah, keindahan foto tidak begitu penting. ”Yang lebih penting adalah rekaman dari kejadian masa itu,” terang Ismail.
Founder komunitas Pandu Wijaya ini mengungkapkan, apapun kualitas foto yang dihasilkan dari fotografer pada masa-masa yang dianggap bersejarah, merupakan dokumen yang memiliki nilai sejarah yang tinggi.
“Tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi namun juga bisa memilki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Para kolektor benda bersejarah sudah  barang tentu memburu barang-barang seperti itu,” urainya.
Acara yang digelar di Cooking Company ini juga mendatangkan dua narasumber lainnya, arsitek dan juga dosen PWK, Prof Antariksa dan perwakilan dari Indonesian School Of Photography, Ali Cholis. Dalam kesempatan kali itu Ali memberikan beberapa tips untuk memfoto objek bersejarah agar keindahan dan nilai historisnya tetap terlihat. Tidak hanya itu, laki-laki yang biasa disapa Ali ini mengungkapkan, dalam memfoto gedung, sebaiknya menggunakan garis horizontal agar detail objek benar-benar terlihat.
“Yang paling  diutamakan untuk menjadi fokus adalah point of interest. Point of interest ini harus lebih menonjol dibandingkan faktor pendukung.  Misalkan ingin memfoto gedung bersejarah, harus menitik beratkan pada objek tersebut. Sementara penggunaan model hanya sebagai sampingan saja,” terangnya.
Ketua pelaksana kegiatan, Awit Yunismardhani mengungkapkan, dalam acara kemarin tidak hanya diisi dengan talkshow saja, namun juga pameran hasil jepretan para peserta lomba fotografi yang digelar seminggu sebelulmnya. Lomba fotografi kali ini dibuat dengan konsep yang agak berbeda. Setiap pasangan peserta diberi clue untuk menemukan venue yang telah ditentukan oleh peserta. Tujuan kegiatan ini, untuk menumbuhkan rasa cinta dan melestarikan objek sejarah yang banyak terdapat di Kota Malang.
“Kami mengadopsi konsep dari luar negeri. Lomba fotografi ini kami konsep amazing race. Jadi, masing-masing peserta boleh mengambil gambar di beberapa venue yang telah kami tunjuk. Ada empat lokasi, Tugu, kawasan Kayutangan, Ijen dan alun-alun Kota Malang,” urai mahasiswa yang biasa disapa Awit ini.
Sementara itu, menurut Ketua Steering Committee, Iwan Indra, dalam kegiatan ini akan diambiltiga pemenang. Juara I berhak mendapatkan fresh money sebesar Rp 1 juta dan beasiswa sebesar Rp 500 ribu untuk belajar fotografi di Indonesian School Of Photography. Sementara juara II berhak mengantongi uang sebesar Rp 700 ribu dan beasiswa sebesar Rp 250 ribu, dan juara III uang tunai Rp 300 ribu dan beasiswa Rp 250 ribu.
“Juara I diraih oleh pasangan Siti Febriani dan Asri Tyas, juara II oleh Asyukur Rizky sementara Juara III oleh Fadhil Husnansah dan Beti Purnama,” tutupnya. (ayu/nda)