Pengabdian Masyarakat Dosen ITN Malang

MALANG - Tim dosen ITN Malang mengenalkan hasil penelitian berupa alat pengering makanan kepada warga RW 08 Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun beberapa waktu lalu. Alat pengering tersebut prinsip pembuatannya sangat mudah sehingga masyarakat bisa secara mandiri membuatnya.
Salah satu dosen peneliti, Ir Drs Eko Edy Susanto MT menuturkan RW 08 Kelurahan Sukun sengaja dipilih sebagai lokasi pengabdian karena masyarakat disana mayoritas masih menggunakan sinar matahari untuk proses pengeringan kerupuk.
“Agar produktivitas setiap hari stabil maka diperlukan alat pengering yang lebih ekonomis sehingga sirkulasi dalam usahanya dapat direncanakan dengan pasti,” ungkap Eko ditemui di kampus 1 ITN Malang.
Pelatihan kepada warga Sukun RW 08 diberikan karena banyak yang bergerak di sektor industri kecil skala rumah tangga. Bidang usaha yang dikembangkan adalah macam-macam kerupuk dan keripik yang selama ini salah satu proses produksinya masih tergantung pada panas matahari. Sehingga perubahan cuaca sangat berpengaruh pada jumlah produktivitasnya.
Karena itulah tim dosen ITN melakukan pembinaan berupa pelatihan pembuatan alat pengeringan yang mampu dioperasikan dalam cuaca mendung, hujan maupun malam hari. Dengan demikian kuantitas produksi tetap stabil atau kemungkinan dapat ditingkatkan lagi. Alat yang diciptakan ini tidak rumit pembuatannya bahkan bisa dibuat di lorong atau ruangan yang sempit sekalipun.
Bahan bakarnya pun bisa memanfaatkan limbah sampah. Karena alat sudah diatur sirkulasi udaranya, sehingga produk tidak akan bau ‘sangit’ meski pembakarannya menggunakan limbah. Sebab asap yang keluar dan masuk tidak bersinggungan dengan bahan yang dikeringkan.
“Jika masyarakat punya ruangan kosong kami siap membantu untuk membuatkan alatnya,” tegasnya.
Prototipe alat yang sudah dibuat oleh dosen ITN ini berkapasitas delapan kilogram dengan biaya pembuatan alat sekitar Rp 1 Juta - Rp1,5 Juta. Alat ini lebih simpel dibandingkan dengan alat pengering yang sudah ada sehingga masyarakat bisa membuatnya sendiri.
Bahan yang dibutuhkan diantaranya kayu, plat atau seng dan triplek. Prototipe yang sudah dibuat ITN spesifikasinya adalah ukuran tinggi 180 cm, panjang 120 cm dan lebar 75 cm, kapasitas total 3-5 kg bahan krupuk sekali pengeringan, pemanasan dari kompor minyak tanah sumbu 18. Bahan-bahan yang digunakan untuk alat pengering diantaranya baja profil siku, besi, triplek tebal 4 mm, plat baja lapis Zn (seng) untuk mengalirkan gas panas dan bambu kering dibuat untuk anyaman tempat material/bahan yang dipanaskan.
Cara pengoperasiannya, bahan baku yang akan dikeringkan dipotong-potong sesuai standar pembuatanya lalu  ditiriskan. Kemudian diatur  dan ditempatkan pada anyaman bambu yang disediakan untuk pengeringan bahan baku. Kompor dinyalakan sampai kondisi api rata dan berwarna biru, lalu  diletakkan di bawah alat pengering yang disediakan untuk nyala api kompor. Panas api kompor akan mengalir melaui saluran gas panas dan memanaskan ruang pengering. Masukan anyaman bambu dengan bahan-bahan yang akan dikeringkan. Dan tutup pintu alat pengering. Proses pengeringan bahan sudah berlangsung dan tunggu sampai kekeringan bahan yang direncanakan.
“Pembinaan ini diharapkan mampu mengembangkan usahanya lebih luas sehingga nilai ekonomisnya dapat mendukung peningkatan  pembangunan disektor lainnya,” beber Eko.
Menurutnya upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang bergerak di bidang usaha khususnya industri kecil yang dikelola di lingkungan rumah tangga sangat penting mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun instansi lainnya seperti Perguruan Tinggi berupa teknologi tepat guna.
Peran Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. “Ke depan pelatihan akan kami berikan kepada masyarakat di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, dengan harapan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” harapnya.(oci/sir/eno)