1998, Novel Terakhir Ratna Indraswari

MALANG – Sastrawati kebanggan Kota Malang, Ratna Indraswari Ibrahim telah meninggal dunia 28 Maret 2011 lalu. Tetapi karyanya tetap bisa dinikmati hingga saat ini. Penulis penyandang difable yang juga aktivis tersebut menyelesaikan  novel terakhirnya berjudul 1998 satu minggu sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Minggu (4/11) lalu, novel  berjudul ’1998’ untuk pertama kalinya dibedah di Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) Jalan Majapahit Kota Malang. Bedah novel ini menghadirkan Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd (pakar sastra), Prof. Dr. Haryono, M.Pd  (pakar sejarah), dan Ki Djati Koesoemo (Budayawan).
Novel romantis yang berlatar sejarah di tahun 1998 itu menceritakan dua tokoh utama. Putri, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) yang merupakan anak walikota Malang dan terlibat dalam politik. Putri jatuh cinta pada Neno, rekan sekampus yang juga seorang aktivis.
Namun kisah cinta ini tidak disampaikan melalui cerita yang mendayu-dayu seperti novel romantis lainnya, tapi lebih menonjolkan nuansa heroik pada masa reformasi 1998. Sebagian besar tokoh novel ini adalah nama yang sama namun diplesetkan oleh Ratna. Bagi sebagian pembaca, terutama aktivis 1998, novel ini merupakan penggabungan fiksi dan sejarah.
 “Saya sempat menyesal, sebelum Ratna meninggal beliau meminta tolong kepada saya untuk membaca novel ini. Tetapi saya belum sempat membaca, dan beliau terlebih dulu dipanggil  yang kuasa,” kata Djoko dengan nada menyesal.
Pria yang juga dosen Universitas Negeri Malang (UM) ini menuturkan, novel tulisan Ratna sangat luar biasa. “Novel ini sebenarnya bagus, tetapi menurut saya editornya kurang jeli. Tulisan-tulisan Ratna yang di ada di karyanya sebelumnya sangat menarik, tidak saya temui di sini,” kata Djoko.
Sementara itu, pakar sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Dr. Haryono, M.Pd menilai novel ini sebagai sebuah satir atau sindiran. “Setelah membaca novel ini kita dapat menilai integritas, kompetensi para pemimpin,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial ini.
Dari sudut pandang budaya, Ki Djati Koesoemo menilai dalam novel ini terlihat kontak budaya masyarakat Malang. “Budaya Malang terlihat dalam novel ini. Nuansa plural dan urban sangat nampak dalam tulisan ini,” katanya. (nin/eno)