Distribusi Tenaga Kesehatan Belum Merata

MALANG - Jurusan kesehatan masih menjadi primadona di kalangan masyarakat, karena jurusan ini mampu memberikan serapan tenaga kerja yang tinggi. Namun sayangnya, lulusan tenaga kesehatan masih terpusat di Jawa. Sedangkan daerah Indonesia Timur mengalami kekurangan.
Hal ini dikatakan drg. Tritarayati, SH, MH Kes Kepala Pusat Perencanaan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia dari Kementrian Kesehatan (Kemkes) saat mengisi musyawarah kerja Asosiasi Insitusi Perguruan Tinggi Tenaga Kesehatan (AIPTIKES) kemarin di Hotel Savana, kemarin.
“Banyak penyebab tidak meratanya lulusan tenaga kesehatan. Di antaranya adalah rekrutmen, formasi untuk tenaga kesehatan jumlahnya kurang. Ditambah lagi dengan pemberlakuan moratorium,” ujar staf ahli Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Kemkes RI ini.
Tara menuturkan, penyebab lainnya adalah Kemkes tidak mempunyai kewenangan untuk mengendalikan pendidikan tenaga kesehatan di luar Kemkes. Penempatan tenaga kesehatan tidak bisa secara wajib. Rendahnya retensi tenaga kesehatan di daerah terutama DTPK  karena insentif yang tidak menarik, barrier to entry, fasilitas kurang,  minimya monev dan belum berkembangnya public-private partnership.
Dalam musyawarah kerja yang diikuti 97 lembaga pendidikan tinggi kesehatan se-Jawa Timur ini juga dipaparkan solusi untuk mengatasi kesenjangan SDM maupun fasilitas kesehatan di Indonesia.
Upaya yang bisa dilakukan untuk meratakan distribusi lulusan tenaga kesehatan adalah dengan menerapkan peningkatan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan melalui fasilitasi daerah untuk menyusun kebutuhan, dan penyusunan standar ketenagaan.
Peningkatan dan pengembangan pengadaan/pendidikan tenaga kesehatan, tugas belajar, pelatihan tenaga pendidik, kewajiban lulusan Poltekes untuk ditempatkan di fasilitas layanan kesehatan pemerintah di wilayahnya. Peningkatan pendayagunaan tenaga kesehatanseperti redistribusi dan kejelasan pola karir
“Tenaga kesehatan juga perlu disertifikasi agar tidak ada kesenjangan dengan bidang lainnya seperti guru dan dosen,” kata perempuan berambut pendek ini. Bukan hanya itu, dalam bidang kesehatan perlu adanya penguatan sumber daya pengembangan tenaga kesehatan dengan memperkuat sistem informasi. Upaya lainnya adalah dengan penguatan regulasi pengembangan dan pemberdayaan tenaga kesehatan.
Agenda musyawarah kerja AIPTIKES selain mengangkai permasalahan kesehatan di Indonesia juga akan melakukan pemilihan ketua AIPTIKES Jawa Timur. “Kegiatan ini merupakan musyawarah kerja AIPTIKES yang pertama. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kontribusi AIPTIKES dalam mencetak lulusan yang berkompetensi,” kata dr. Abdurrahman M. Kes, Ketua Panitia. (nin/eno)