M-KRPL, Solusi Ketahanan Pangan

MALANG- Indonesia adalah negara agraris. Namun sayangnya justru saat ini Indonesia banyak melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri. Sebagai wujud keprihatinan terhadap kondisi ketahanan pangan Indonesia, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Center of Agriculture Development Studies (CADS) Universitas Brawijaya (UB) dan Fakultas Pertanian UB menggelar seminar nasional Ketahanan Pangan di Gedung Widyaloka UB, kemarin (9/11).
Seminar yang merupakan rangkaian acara Dies Natalis ke-52 Fakultas Pertanian UB ini menghadirkan Prof (ret) Dr. Ir. Suhardi, MSc Kepala Badan Litbang Pertanian Departemen Pertanian RI. Dalam seminar kemarin, Suhardi memaparkan materinya mengenai Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL).
“Saat ini realisasi konsumsi masyarakat masih di bawah anjuran pemenuhan gizi menurut PPH 75,7. Selain itu perhatian terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas. Untuk itu perlu diterapkan M-KRPL,” kata pria yang juga ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi DIY Yogyakarta ini.
M-KRPL sendiri merupakan pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dalam suatu kawasan, untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, peningkatan pendapatan keluarga, dan meningkatkan kesejahteraan melalui partisipasi masyarakat.
Dalam seminar tersebut Suhardi juga menyayangkan impor pangan yang dilakukan Indonesia. Ia mencontohkan impor kedelai, gandum, dan buah-buahan yang semakin meningkat justru akan mematikan petani lokal.
“Solusinya adalah penurunan konsumsi beras 1,5 persen per kapita/tahun dan pola pangan harapan atau PPH pada 2014 diharapkan mampu mencapai 93,3. Masyarakat dapat mengurangi konsumsi beras dan menggantinya dengan umbi-umbian yang mudah dibudidayakan di sekitar pemukiman,” bebernya.
M-KRPL sangat potensial untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Selain itu, M-KRPL sangat strategis dikembangkan untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. M-KRPL telah dan perlu direplikasi oleh pemerintah daerah serta masyarakat luas secara swadaya
“Tujuan program ini adalah mengangkat Indonesia menjadi negara maju dan merupakan kekuatan 12 besar dunia di tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif dan berkelanjutan” pungkasnya. (nin/nda)