sarjana ilmu sosial harus pandai menulis dan berbicara

MALANG- Seorang sarjana  ilmu sosial mestinya mampu menulis dan berbicara dengan baik. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit sarjana ilmu sosial yang tidak mampu menulis dan juga berbicara sebagai  seorang ilmuwan. 
”Tuntutan itu kiranya tidak berlebihan. Sebab tidak bisa dibayangkan, apa yang akan disumbangkan oleh mereka, manakala yang bersangkutan tidak bisa menulis dan berbicara,” ungkap Rektor UIN Maliki, Prof Dr H Imam Suprayogo kepada Malang Post.
Menurutnya kasus-kasus  terjadinya plagiasi di banyak kampus yang dilakukan oleh para sarjana, tidak saja lulusan S1, tetapi juga S2 dan bahkan S3  disebabkan karena banyaknya sarjana yang tidak  mampu menulis dan berbicara. 
Sarjana ilmu sosial, lanjutnya berbeda dengan sarjana ilmu-ilmu alam, seperti ilmu pertanian, kedokteran, peternakan, teknik dan  sejenisnya.  Tanpa bisa menulis misalnya, mereka itu masih bisa melaksanakan pekerjaan profesional sesuai dengan keahliannya. Hal tersebut akan sangat berbeda dengan sarjana ilmu sosial. Kemampuan sarjana ilmu sosial hanya akan bisa ditunjukkan  melalui tulisan dan kemampuan bicaranya. Tanpa kedua kemampuan itu, sarjana ilmu sosial akan tampil sebagaimana orang awam. Bahkan  tidak sedikit orang awam sekalipun,  justru pandai menulis dan berbicara.
Namun  pada kenyataannya tidak semua sarjana ilmu sosial bisa menulis dan berbicara. Dalam  kegiatan diskusi, seminar,  atau  jenis pertemuan ilmiah lainnya tidak sedikit sarjana ilmu sosial hadir tetapi  tidak berbicara. Demikian pula mereka ternyata juga tidak pernah menulis. Oleh karena itu, ilmu yang dimiliki oleh sarjana tersebut tidak pernah kelihatan.
”Mereka menyandang gelar akademik, bahkan hingga S3 atau bergelar doktor,  tetapi  isi di balik gelar yang disandang itu tidak pernah tampak,” tuturnya. 
Yang mengkhawatirkan menurutnya jika orang tersebut bekerja sebagai dosen.  Bisa dibayangkan apa yang dikerjakan olehnya di depan ruang kuliah.
”Umpama itu terjadi pada masa lalu, sebelum ada mesin foto copy,  internet, dan lain-lain,  mereka bisa menjalankan tugasnya dengan mendikte isi kuliahnya agar dicatat oleh para mahasiswanya,” ujarnya. 
Jika yang demikian itu benar-benar terjadi, maka perguruan  tinggi tersebut telah mengalami kecelakaan yang serius. Dosennya tidak mampu membangun imajinasi dan wawasan kepada para mahasiswanya. Dalam keadaan seperti itu yang sebenarnya terjadi  adalah proses-propses formal yang sebenarnya tidak memiliki arti apa-apa.
Inilah salah satu problem pendidikan formal, sehingga kelulusan baru pada taraf  formalitas. Dalam ujian formal di kampusnya  ia  lulus, tetapi tatkala  harus mengikuti ujian dalam kehidupan nyata, ternyata tidak lulus oleh karena tidak memiliki dua  kemampuan, yaitu berbicara dan menulis,” pungkasnya. (oci)